Khotbah Jumat · Hijrah & Perbaikan Diri · 28 October 2026

Hijrah dari Maksiat: Memulai Lembaran Baru

KHOTBAH PERTAMA

1. Pembukaan

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللّٰهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِيْنِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللّٰهُ، أُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Sidang Jumaat yang dirahmati Allah SWT,

Marilah kita senantiasa memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah Azza wa Jalla, Tuhan semesta alam yang tak henti-hentinya mengucurkan nikmat-Nya kepada kita. Nikmat sehat, nikmat sempat, dan yang paling utama adalah nikmat iman serta Islam yang masih bersemi di dalam dada kita hingga detik ini. Tanpa hidayah-Nya, mustahil kaki kita melangkah ringan menuju rumah Allah ini untuk menunaikan kewajiban shalat Jumat.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada uswah hasanah kita, Baginda Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah sosok yang membawa cahaya di tengah kegelapan, yang mengajarkan kita bagaimana cara kembali kepada Allah setelah kita tersesat dalam rimba kemaksiatan. Semoga kelak kita diakui sebagai umatnya dan mendapatkan syafaatnya di hari kiamat. Amin ya Rabbal Alamin.

Sebagai khatib, saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan kualitas ketakwaan kita. Takwa bukan sekadar kata yang terucap di lisan, melainkan sebuah kesadaran mendalam untuk menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, baik dalam keadaan ramai maupun saat kita sendirian di balik layar gawai kita masing-masing. Hari ini, kita akan merenungi sebuah tema yang sangat krusial bagi perjalanan spiritual kita: "Hijrah dari Maksiat: Memulai Lembaran Baru."

2. Isi Materi

Poin pertama: Memahami Hakikat Hijrah di Era Modern

Hijrah seringkali disalahpahami hanya sebagai perpindahan fisik atau sekadar perubahan penampilan luar. Padahal, esensi terdalam dari hijrah adalah perpindahan kondisi batin dari kegelapan menuju cahaya, dari kemaksiatan menuju ketaatan. Di tengah kehidupan perkotaan yang serba cepat dan penuh godaan ini, hijrah harus dimaknai sebagai upaya sadar untuk meninggalkan segala sesuatu yang dibenci oleh Allah SWT.

Dalil mengenai hal ini dapat kita temukan dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, di mana Rasulullah SAW bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

Artinya: "Seorang Muslim adalah orang yang Muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya, dan seorang Muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah." (HR. Bukhari, No. 10).

Penjelasan dari hadits ini sangat mendalam. Rasulullah SAW menegaskan bahwa predikat "Muhajir" atau orang yang berhijrah tidak terbatas pada mereka yang berpindah dari Makkah ke Madinah pada zaman dahulu. Pintu hijrah tetap terbuka lebar bagi kita semua hingga hari kiamat dalam bentuk meninggalkan larangan-larangan Allah. Di kota besar seperti Jakarta atau kota-kota lainnya, kemaksiatan seringkali tersaji dengan sangat halus, bahkan dianggap sebagai gaya hidup yang wajar. Hijrah berarti kita berani mengambil sikap untuk berkata "tidak" pada tren yang melanggar syariat, meskipun hal itu membuat kita terlihat berbeda di mata manusia.

Contoh aplikatifnya dalam kehidupan sehari-hari adalah ketika kita berani memutus rantai pergaulan yang toxic atau lingkungan yang selalu mengajak pada kelalaian. Misalnya, jika selama ini kita terbiasa menghabiskan waktu berjam-jam untuk membicarakan keburukan orang lain (ghibah) di kantor atau di grup WhatsApp, maka hijrah kita dimulai dengan keluar dari percakapan tersebut atau mengalihkan pembicaraan ke arah yang lebih bermanfaat. Hijrah juga berarti mulai mengatur waktu agar kesibukan mengejar karier tidak membuat kita menunda-nunda waktu shalat.

Hikmah dari memahami hakikat hijrah ini adalah ketenangan batin. Banyak orang kota yang merasa hampa meskipun secara materi mereka berkecukupan. Kehampaan itu seringkali bersumber dari jiwa yang jauh dari Tuhannya karena tertutup debu maksiat. Dengan berhijrah meninggalkan larangan Allah, jiwa kita akan kembali menemukan fitrahnya, merasakan kedamaian yang tidak bisa dibeli dengan harta sebanyak apa pun. Hijrah adalah proses pembersihan diri agar kita layak mendapatkan cinta-Nya.

Poin kedua: Hijrah Digital dan Menjaga Jari dari Kemaksiatan

Bagi masyarakat perkotaan yang aktif bermedia sosial, medan pertempuran terbesar dalam berhijrah saat ini bukan lagi di padang pasir, melainkan di ujung jari kita. Media sosial bisa menjadi ladang pahala, namun tak jarang menjadi sumber dosa jariyah yang terus mengalir bahkan setelah kita wafat. Hijrah dari maksiat berarti melakukan kurasi ketat terhadap apa yang kita lihat, apa yang kita sukai, dan apa yang kita bagikan di dunia maya.

Allah SWT mengingatkan kita dalam Al-Qur'an Surah Qaf ayat 18:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Artinya: "Tidak ada suatu kata pun yang terucap melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)." (QS. Qaf: 18).

Ayat ini menegaskan bahwa setiap ketikan, setiap komentar, dan setiap unggahan kita tidak ada yang luput dari pengawasan Allah. Penjelasan lebih lanjutnya adalah bahwa di era digital, "ucapan" tidak lagi hanya melalui lisan, tetapi juga melalui tulisan di kolom komentar atau status media sosial. Hijrah digital menuntut kita untuk berhenti menyebarkan berita bohong (hoax), berhenti menghujat orang yang berbeda pendapat, dan berhenti memamerkan kemaksiatan atau kemewahan yang dibarengi dengan kesombongan. Kita harus sadar bahwa jempol kita akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah kelak.

Contoh aplikatifnya adalah dengan melakukan "unfollow" atau "mute" terhadap akun-akun yang memicu kita untuk berbuat maksiat, baik itu maksiat mata, hati (seperti iri dengki), maupun lisan. Jika kita merasa sering merasa rendah diri atau iri melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna di Instagram, maka hijrah kita adalah membatasi durasi penggunaan media sosial tersebut. Sebaliknya, gunakanlah platform digital untuk menyebarkan kebaikan, memberikan dukungan positif, atau sekadar membagikan ilmu yang bermanfaat. Inilah bentuk hijrah nyata di zaman modern.

Hikmah dari hijrah digital ini adalah terjaganya kesehatan mental dan kejernihan hati. Terlalu banyak terpapar konten negatif atau maksiat di dunia maya akan membuat hati kita keras dan sulit menerima nasihat agama. Dengan membersihkan linimasa kita dari hal-hal yang tidak diridhai Allah, kita memberikan ruang bagi hati untuk lebih fokus pada perbaikan diri dan mengingat Allah. Kita akan merasa lebih cukup dengan apa yang kita miliki dan lebih tenang karena tidak lagi terjebak dalam hiruk-pikuk drama dunia maya yang melelahkan.

Poin ketiga: Menjaga Istiqomah di Tengah Arus Godaan

Memulai hijrah mungkin terasa mudah karena adanya semangat yang meluap-luap di awal. Namun, tantangan terberat adalah bagaimana menjaga konsistensi atau istiqomah di tengah lingkungan perkotaan yang penuh dengan godaan. Seringkali, setelah seseorang memutuskan untuk berhijrah, ia akan diuji dengan cemoohan teman, godaan untuk kembali ke masa lalu, atau rasa bosan dalam beribadah. Di sinilah letak perjuangan yang sesungguhnya.

Allah SWT memberikan janji yang luar biasa bagi mereka yang mampu istiqomah, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Fussilat ayat 30:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang berkata, 'Tuhan kami adalah Allah' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), 'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu'." (QS. Fussilat: 30).

Penjelasan ayat ini memberikan motivasi bahwa istiqomah adalah kunci untuk mendapatkan perlindungan Allah. Di tengah hiruk-pikuk kota, istiqomah berarti tetap menjaga shalat lima waktu di tengah rapat yang padat, tetap menjaga kejujuran di tengah sistem yang mungkin korup, dan tetap menjaga lisan di tengah lingkungan yang gemar mencela. Istiqomah bukan berarti kita menjadi manusia sempurna yang tidak pernah salah, melainkan kita yang selalu segera kembali kepada Allah setiap kali tergelincir.

Contoh aplikatif untuk menjaga istiqomah adalah dengan mencari komunitas atau lingkungan pertemanan yang mendukung proses hijrah kita. Di perkotaan, banyak sekali majelis taklim atau komunitas hobi yang berbasis nilai-nilai Islam. Bergabunglah dengan mereka. Selain itu, jangan pernah meremehkan amalan kecil yang dilakukan secara rutin. Misalnya, rutin membaca Al-Qur'an satu halaman setiap hari setelah shalat Subuh, atau rutin bersedekah melalui aplikasi digital setiap hari Jumat. Amalan yang sedikit namun kontinu jauh lebih dicintai Allah daripada amalan besar yang hanya dilakukan sekali seumur hidup.

Hikmah dari istiqomah adalah terbentuknya karakter yang kokoh dan tidak mudah goyah oleh keadaan. Orang yang istiqomah akan memiliki prinsip hidup yang jelas, sehingga ia tidak akan mudah terbawa arus tren yang negatif. Ia akan menjadi pribadi yang tenang karena ia tahu bahwa tujuannya adalah ridha Allah, bukan pujian manusia. Istiqomah juga akan mendatangkan pertolongan Allah di saat-saat tersulit dalam hidup kita, karena Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya berjalan sendirian.

Poin keempat: Pintu Taubat yang Selalu Terbuka untuk Lembaran Baru

Mungkin di antara kita ada yang merasa bahwa dosanya sudah terlalu menumpuk, maksiatnya sudah terlalu kelam, sehingga merasa tidak pantas untuk berhijrah. Ada bisikan setan yang mengatakan, "Sudah terlambat bagimu untuk berubah." Namun, ketahuilah bahwa rahmat Allah jauh lebih luas daripada murka-Nya. Hijrah adalah tentang memulai lembaran baru, dan Allah sangat mencintai hamba-Nya yang mau kembali kepada-Nya dengan penuh penyesalan.

Simaklah seruan kasih sayang Allah dalam Surah Az-Zumar ayat 53:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Artinya: "Katakanlah (Muhammad), 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang'." (QS. Az-Zumar: 53).

Penjelasan ayat ini adalah sebuah "proklamasi" pengampunan dari Allah. Kata "asrafu" merujuk pada mereka yang sudah sangat keterlaluan dalam berbuat dosa. Namun, Allah tetap memanggil mereka dengan sebutan "Ya 'Ibadi" (Wahai hamba-hamba-Ku). Ini menunjukkan betapa Allah masih mengakui kita sebagai hamba-Nya meskipun kita telah sering mengkhianati perintah-Nya. Hijrah dari maksiat dimulai dengan keyakinan bahwa Allah akan menerima taubat kita selama nyawa belum sampai di kerongkongan. Tidak ada kata terlambat untuk membersihkan diri dan memulai hidup yang baru.

Contoh aplikatifnya adalah dengan melakukan shalat taubat di sepertiga malam terakhir. Di saat kota sedang terlelap, bangunlah dan tumpahkan segala keluh kesah serta penyesalan di hadapan Allah. Akuilah segala kesalahan kita, mulai dari maksiat yang tersembunyi hingga yang terang-terangan. Berjanjilah untuk tidak mengulanginya dan iringilah dengan perbuatan baik. Jika maksiat kita berkaitan dengan hak manusia, seperti hutang atau fitnah, maka segeralah selesaikan urusan tersebut. Memulai lembaran baru berarti berani membereskan masa lalu yang kelam dengan penuh tanggung jawab.

Hikmah dari terbukanya pintu taubat ini adalah munculnya harapan (raja'). Harapan inilah yang menjadi bahan bakar bagi seseorang untuk terus memperbaiki diri. Tanpa harapan akan ampunan Allah, manusia akan terus tenggelam dalam kemaksiatan karena merasa sudah terlanjur rusak. Dengan adanya pintu taubat, setiap hari adalah kesempatan baru untuk menjadi orang baik. Kita tidak ditentukan oleh masa lalu kita, melainkan oleh bagaimana kita mengakhiri hidup ini. Hijrah adalah perjalanan pulang menuju pelukan rahmat Allah yang tak bertepi.

3. Penutup

Sidang Jumaat yang dimuliakan Allah,

Sebagai penutup khotbah ini, marilah kita merenung sejenak. Hidup di dunia ini hanyalah persinggahan yang sangat singkat. Segala gemerlap kota, jabatan yang kita kejar, dan validasi di media sosial, semuanya akan kita tinggalkan. Yang akan menemani kita di liang lahat hanyalah amal shalih dan catatan perjalanan kita: apakah kita memilih untuk terus berkubang dalam maksiat, ataukah kita memilih untuk berani berhijrah memulai lembaran baru?

Jangan tunggu hari esok untuk berhijrah, karena kita tidak pernah tahu apakah hari esok masih menjadi milik kita. Mulailah dari hal yang paling kecil, mulailah dari diri sendiri, dan mulailah saat ini juga. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah kita, menguatkan hati kita dalam ketaatan, dan menerima segala taubat kita sehingga kita bisa menghadap-Nya dalam keadaan husnul khatimah.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHOTBAH KEDUA

1. Pembukaan

الْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْمَحْشَرِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan sebenar-benar takwa. Yakni dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, baik dalam keadaan sunyi maupun ramai, baik di dunia nyata maupun di jagat maya.

2. Isi Singkat

Melalui mimbar yang mulia ini, khatib ingin menguatkan kembali pesan khotbah pertama bahwa hijrah bukanlah sekadar perpindahan tempat, melainkan perpindahan keadaan dari kegelapan maksiat menuju cahaya ketaatan. Di era digital ini, lembaran baru yang kita buka haruslah mencakup kebersihan jempol dan hati kita dalam berinteraksi di media sosial. Mari kita tinggalkan segala bentuk ghibah digital, penyebaran berita bohong, serta tontonan yang mengundang murka Allah.

Ingatlah bahwa rahmat Allah jauh lebih besar daripada dosa-dosa kita. Jangan pernah berputus asa untuk pulang kepada-Nya. Setiap detik yang kita miliki adalah kesempatan emas untuk menuliskan catatan amal yang lebih baik.

Sebagai penutup, marilah kita bershalawat kepada Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana perintah Allah dalam Al-Qur'an Surat Al-Ahzab ayat 56:

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya."

3. Doa Penutup

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa seluruh kaum muslimin. Terimalah taubat kami dan bimbinglah kami agar istiqomah dalam hijrah meninggalkan kemaksiatan. Berikanlah kami kekuatan untuk senantiasa memulai lembaran baru yang bersih di bawah naungan ridha-Mu.

اللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اللّٰهُمَّ اجْعَلْ بَلْدَتَنَا اِنْدُوْنِيْسِيَا بَلْدَةً طَيِّبَةً وَرَبٌّ غَفُوْرٌ.

Ya Allah, berikanlah taufik dan hidayah-Mu kepada para pemimpin kami. Jadikanlah bangsa dan negara Indonesia ini negeri yang aman, makmur, damai, dan penuh keberkahan. Lindungilah kami dari segala fitnah dan bencana yang tampak maupun yang tersembunyi.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. أَقِيْمُوا الصَّلَاةَ.

Disusun otomatis dengan bantuan AI. Mohon ditelaah dan disesuaikan sebelum dibacakan.