Khotbah Jumat · Pengobatan & Thibbun Nabawi · 28 October 2026

Pengobatan dalam Islam: Antara Medis dan Ruqyah Syar'iyah

KHOTBAH PERTAMA

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kaum muslimin dan muslimat, jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT,

Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam, yang telah menganugerahkan kepada kita nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat kesehatan, sehingga pada hari yang mulia ini kita dapat berkumpul di rumah-Nya yang suci ini untuk menunaikan salah satu kewajiban kita sebagai seorang muslim, yaitu shalat Jumat. Kita bersyukur atas segala karunia-Nya yang tak terhingga, yang tak pernah putus mengalir dalam setiap hembusan napas kita.

Kita bersaksi tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dialah Yang Maha Esa, Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang Maha Memberi kehidupan dan kematian, Yang Maha Menyembuhkan dan Maha Menguji. Dan kita bersaksi bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya, penutup para nabi dan rasul, suri teladan terbaik bagi seluruh umat manusia. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga beliau, para sahabat beliau, serta seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti jejak langkahnya hingga hari kiamat.

Hadirin jamaah Jumat yang berbahagia,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT, dengan sebenar-benar takwa. Yakni dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, baik dalam keadaan terang maupun sembunyi, baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Takwa adalah bekal terbaik kita menghadap Allah, takwa adalah kunci kebahagiaan dunia dan akhirat. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim." (QS. Ali Imran: 102)

Takwa inilah yang akan membimbing kita dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam menyikapi urusan kesehatan dan pengobatan. Di tengah kemajuan teknologi medis yang pesat, serta maraknya berbagai tawaran pengobatan alternatif, kita sebagai seorang muslim wajib memiliki pemahaman yang benar, agar ikhtiar kita dalam mencari kesembuhan senantiasa berada di atas tuntunan syariat, tidak melenceng dari akidah, dan tidak pula menyia-nyiakan upaya yang telah Allah sediakan.

Pada kesempatan khotbah Jumat yang mulia ini, khatib akan menyampaikan nasihat tentang "Pengobatan dalam Islam: Antara Medis dan Ruqyah Syar'iyah", sebuah tema yang sangat relevan bagi kita di era modern ini, agar kita dapat mengambil sikap yang bijak dan benar sesuai tuntunan agama kita yang sempurna.

1. Pembukaan

(Sudah ditulis di atas)

2. Isi Materi

Islam Mengajarkan Ikhtiar Medis sebagai Sunnatullah

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Islam adalah agama yang sempurna, yang tidak hanya mengatur ibadah ritual, tetapi juga seluruh aspek kehidupan, termasuk kesehatan dan pengobatan. Allah SWT menciptakan manusia dengan tubuh yang sempurna, dan ketika tubuh itu sakit, Allah juga menyediakan jalan untuk kesembuhan. Ini adalah bagian dari sunnatullah, hukum alam yang telah ditetapkan-Nya. Islam sangat menganjurkan umatnya untuk berikhtiar mencari pengobatan secara medis dan ilmiah. Menolak pengobatan medis tanpa alasan syar'i yang kuat, semata-mata karena pasrah atau keyakinan yang keliru, justru bisa dianggap sebagai bentuk menyia-nyiakan nikmat dan karunia Allah.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً

Artinya: "Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit melainkan Dia menurunkan pula obatnya." (HR. Bukhari no. 5678 dan Muslim no. 2204)

Hadits yang mulia ini memberikan kita keyakinan bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya. Tugas kita sebagai hamba adalah mencari dan menemukannya. Ini adalah dorongan kuat bagi kita untuk tidak berputus asa dalam menghadapi penyakit, melainkan terus berusaha mencari jalan kesembuhan melalui ilmu pengetahuan dan teknologi medis yang terus berkembang. Para ilmuwan dan dokter yang meneliti obat-obatan, yang menemukan metode pengobatan baru, sesungguhnya sedang menjalankan bagian dari perintah Allah untuk mencari penawar yang telah Dia sediakan.

Sebagai contoh aplikatif dalam kehidupan sehari-hari, ketika kita atau anggota keluarga kita jatuh sakit, langkah pertama yang paling bijak adalah segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat, seperti puskesmas, klinik, atau rumah sakit. Konsultasikan kondisi kita kepada dokter yang kompeten, ikuti anjuran pengobatan yang diberikan, minum obat sesuai dosis dan jadwal, serta patuhi pantangan makanan atau aktivitas yang disarankan. Jangan menunda-nunda pengobatan dengan harapan penyakit akan sembuh sendiri tanpa usaha, apalagi jika penyakit tersebut menunjukkan gejala yang serius. Menggunakan teknologi medis modern, seperti pemeriksaan laboratorium, rontgen, atau operasi, adalah bagian dari ikhtiar yang dibenarkan dalam Islam. Ini adalah bentuk tawakkal yang benar, yaitu berikhtiar maksimal dengan segala sarana yang ada, kemudian menyerahkan hasilnya sepenuhnya kepada Allah SWT.

Hikmah yang dapat kita petik dari anjuran berikhtiar medis ini adalah bahwa Islam adalah agama yang rasional dan ilmiah. Ia tidak mengajarkan kita untuk pasrah tanpa usaha, melainkan mendorong kita untuk menggunakan akal dan potensi yang telah Allah berikan. Menjaga kesehatan adalah amanah dari Allah, dan mencari pengobatan saat sakit adalah bentuk syukur atas nikmat tubuh yang telah dianugerahkan-Nya. Dengan berikhtiar secara medis, kita tidak hanya berusaha menyembuhkan diri sendiri, tetapi juga turut berkontribusi dalam memajukan ilmu pengetahuan dan kesejahteraan umat manusia secara umum. Ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang relevan dan solutif untuk setiap zaman, yang senantiasa mendorong umatnya untuk menjadi pribadi yang produktif dan bertanggung jawab atas dirinya serta lingkungannya.

Memahami Ruqyah Syar'iyah: Batasan dan Tujuannya

Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Selain pengobatan medis, Islam juga mengenal pengobatan spiritual yang disebut ruqyah syar'iyah. Namun, perlu kita pahami dengan benar, apa itu ruqyah syar'iyah dan bagaimana batasannya, agar kita tidak terjerumus pada praktik-praktik yang menyimpang dari akidah Islam. Ruqyah syar'iyah adalah pengobatan dengan membaca ayat-ayat Al-Qur'an, doa-doa ma'tsur (yang bersumber dari Rasulullah SAW), dan zikir-zikir yang sesuai syariat, dengan keyakinan penuh bahwa kesembuhan hanya datang dari Allah SWT. Ini adalah bentuk tawassul (perantara) dengan kalamullah dan doa-doa yang suci, bukan sihir atau perdukunan.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

Artinya: "Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Al-Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian." (QS. Al-Isra: 82)

Ayat ini secara jelas menyatakan bahwa Al-Qur'an adalah penawar (syifa') dan rahmat. Penawar di sini mencakup penawar bagi penyakit hati (keraguan, kesyirikan, kemunafikan) dan juga penawar bagi penyakit fisik. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga membolehkan ruqyah selama tidak mengandung syirik. Beliau bersabda:

لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ تَكُنْ شِرْكًا

Artinya: "Tidak mengapa ruqyah selama tidak mengandung syirik." (HR. Muslim no. 2200)

Ini adalah prinsip dasar dalam ruqyah syar'iyah: tidak boleh ada unsur syirik, tidak boleh menggunakan mantra-mantra yang tidak jelas maknanya, tidak boleh meminta bantuan jin atau makhluk gaib lainnya, dan tidak boleh menggunakan jimat atau benda-benda keramat. Ruqyah syar'iyah harus dilakukan dengan keyakinan bahwa hanya Allah yang menyembuhkan, dan Al-Qur'an serta doa adalah sarana yang Dia ridhai.

Contoh aplikatif ruqyah syar'iyah yang bisa kita lakukan sendiri atau meminta bantuan orang shalih adalah dengan membaca surah Al-Fatihah, Ayat Kursi, tiga surah terakhir Al-Qur'an (Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas), serta doa-doa perlindungan yang diajarkan Nabi SAW, seperti doa memohon kesembuhan. Ini bisa dibaca pada diri sendiri, diusapkan pada bagian tubuh yang sakit, atau dibacakan pada air untuk diminum. Penting untuk menjauhi praktik ruqyah yang meminta tumbal, menggunakan benda-benda aneh, atau melakukan ritual-ritual yang tidak ada dasarnya dalam syariat. Jika ada yang menawarkan ruqyah dengan syarat-syarat demikian, maka itu bukan ruqyah syar'iyah, melainkan bentuk perdukunan yang haram.

Hikmah dari ruqyah syar'iyah adalah menguatkan tauhid kita kepada Allah SWT. Ia mengingatkan kita bahwa kekuatan sejati ada pada Allah, dan Al-Qur'an adalah kalam-Nya yang penuh berkah dan penyembuh. Ruqyah syar'iyah juga menjadi benteng spiritual bagi kita dari gangguan syaitan, sihir, dan 'ain (pandangan mata jahat). Dengan berpegang pada ruqyah syar'iyah, kita tidak hanya mencari kesembuhan fisik, tetapi juga membersihkan hati dari ketergantungan kepada selain Allah, dan memperkuat hubungan kita dengan Sang Pencipta. Ini adalah bentuk ibadah yang agung, yang menggabungkan antara doa, zikir, dan keyakinan yang kokoh.

Sinergi Medis dan Ruqyah: Pendekatan Holistik dalam Islam

Kaum muslimin yang berbahagia,

Islam mengajarkan kita untuk mengambil pendekatan yang holistik dalam segala urusan, termasuk dalam pengobatan. Artinya, Islam tidak memisahkan antara pengobatan fisik dan spiritual. Keduanya dapat dan seharusnya berjalan beriringan, saling melengkapi. Penyakit yang menimpa manusia bisa jadi memiliki dimensi fisik, psikis, dan bahkan spiritual. Oleh karena itu, menggabungkan pengobatan medis modern dengan ruqyah syar'iyah adalah pendekatan yang paling komprehensif dan sesuai dengan ajaran Islam yang sempurna. Ini adalah bentuk tawakkal yang sempurna, yaitu berusaha maksimal di dunia nyata dan juga di dunia spiritual, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah semata.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an, melalui lisan Nabi Ibrahim 'alaihissalam:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

Artinya: "Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku." (QS. Asy-Syu'ara: 80)

Ayat ini menegaskan bahwa pada hakikatnya, hanya Allah-lah yang Maha Menyembuhkan. Dokter, obat-obatan, dan ruqyah hanyalah perantara atau sebab yang Allah izinkan. Dengan keyakinan ini, kita tidak akan bergantung sepenuhnya pada dokter atau obat, tetapi hati kita akan selalu tertuju kepada Allah sebagai Penyembuh sejati. Inilah yang memungkinkan sinergi antara medis dan ruqyah. Pengobatan medis menangani aspek fisik penyakit, sementara ruqyah syar'iyah menangani aspek spiritual dan psikologis, menguatkan iman, dan memohon pertolongan langsung dari Allah.

Sebagai contoh aplikatif, bayangkan seseorang yang didiagnosis menderita penyakit kronis seperti diabetes atau kanker. Ia tidak hanya pasrah, tetapi juga tidak hanya mengandalkan satu metode saja. Ia akan rutin berobat ke dokter spesialis, mengikuti jadwal kontrol, minum obat sesuai resep, dan menjaga pola makan serta gaya hidup sehat. Di samping itu, ia juga tidak melupakan aspek spiritual. Ia akan memperbanyak doa, zikir, membaca Al-Qur'an, dan mungkin meminta diruqyah syar'iyah oleh orang yang shalih. Ia meyakini bahwa obat medis adalah sebab fisik, sementara doa dan ruqyah adalah sebab spiritual yang dapat menguatkan jiwanya, menenangkan hatinya, dan memohon rahmat kesembuhan dari Allah. Bahkan, dalam kasus penyakit yang secara medis sulit dijelaskan atau bersifat psikosomatis, pendekatan spiritual melalui ruqyah bisa memberikan ketenangan batin dan membantu proses penyembuhan secara keseluruhan.

Hikmah dari pendekatan holistik ini adalah menunjukkan kesempurnaan Islam yang memperhatikan seluruh aspek kehidupan manusia. Islam tidak memisahkan antara jasad dan ruh, antara dunia dan akhirat. Kesehatan yang sejati adalah kesehatan fisik dan spiritual yang seimbang. Dengan menggabungkan ikhtiar medis dan ruqyah syar'iyah, kita diajarkan untuk tidak bergantung sepenuhnya pada salah satu metode saja, melainkan pada Allah semata melalui berbagai wasilah yang Dia ridhai. Ini juga mengajarkan kita untuk selalu berprasangka baik kepada Allah, bahwa Dia tidak akan membiarkan hamba-Nya tanpa jalan keluar, dan bahwa setiap ujian penyakit adalah kesempatan untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan meraih pahala kesabaran. Pendekatan ini juga memberikan ketenangan batin, karena kita merasa telah melakukan yang terbaik dari sisi duniawi dan ukhrawi.

Menjaga Akidah dan Kewaspadaan dalam Mencari Pengobatan

Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Dalam mencari pengobatan, baik medis maupun spiritual, ada satu hal yang tidak boleh kita kompromikan, yaitu menjaga akidah tauhid kita. Di tengah maraknya berbagai tawaran pengobatan alternatif yang kadang-kadang tidak jelas juntrungannya, kita wajib memiliki kewaspadaan tinggi agar tidak terjerumus pada praktik-praktik yang menyimpang dari syariat, apalagi yang mengandung unsur syirik. Akidah adalah pondasi agama kita, dan ia harus menjadi prioritas utama di atas segalanya, termasuk keinginan untuk sembuh.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan peringatan keras tentang bahaya mendatangi dukun atau peramal. Beliau bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

Artinya: "Barangsiapa mendatangi dukun atau peramal, lalu membenarkan ucapannya, maka sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad." (HR. Ahmad no. 9536, Tirmidzi no. 135, Ibnu Majah no. 639. Dishahihkan oleh Al-Albani)

Hadits ini menunjukkan betapa seriusnya masalah ini. Dukun, peramal, atau siapa pun yang mengklaim bisa menyembuhkan dengan cara-cara gaib yang tidak syar'i, meminta tumbal, menggunakan jimat, atau mantra-mantra yang tidak jelas, adalah praktik yang sangat dilarang dalam Islam. Kesembuhan adalah anugerah Allah, dan cara mencarinya haruslah diridhai-Nya, bukan dengan cara-cara yang mengotori akidah. Banyak orang yang karena putus asa atau kurangnya ilmu, akhirnya terjerumus pada praktik-praktik syirik demi mendapatkan kesembuhan instan yang semu.

Sebagai contoh aplikatif, di era digital ini, informasi tentang berbagai jenis pengobatan alternatif sangat mudah diakses melalui media sosial. Kita harus menjadi jamaah yang cerdas dan kritis. Sebelum mencoba suatu pengobatan alternatif, teliti dulu metodenya. Apakah ada unsur syirik di dalamnya? Apakah ada klaim-klaim yang berlebihan dan tidak masuk akal? Apakah bertentangan dengan syariat Islam? Jangan mudah tergiur dengan testimoni viral atau janji-janji kesembuhan instan tanpa verifikasi yang jelas. Jika ragu, konsultasikan dengan ulama atau ahli agama yang terpercaya. Mereka akan membimbing kita untuk membedakan mana pengobatan yang syar'i dan mana yang tidak. Ingatlah, kesehatan dan kesembuhan yang didapat dengan cara yang haram tidak akan membawa keberkahan.

Hikmah dari kewaspadaan ini adalah untuk menjaga kemurnian akidah tauhid kita, yang merupakan harta paling berharga bagi seorang muslim. Prioritas utama kita adalah menyelamatkan iman, bahkan jika itu berarti harus bersabar lebih lama dalam menghadapi penyakit. Allah tidak akan membebani hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Dengan menjaga akidah, kita memastikan bahwa setiap ikhtiar kita dalam mencari kesembuhan bernilai ibadah di sisi Allah, dan bukan malah mendatangkan murka-Nya. Kewaspadaan ini juga melindungi kita dari penipuan dan eksploitasi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, yang memanfaatkan keputusasaan orang sakit demi keuntungan pribadi. Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk selalu berada di jalan yang lurus dan diridhai-Nya.

3. Penutup

Kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah,

Demikianlah khotbah Jumat pada siang hari ini yang membahas tentang pengobatan dalam Islam, antara ikhtiar medis dan ruqyah syar'iyah. Kita telah memahami bahwa Islam menganjurkan kita untuk berikhtiar secara medis sebagai bagian dari sunnatullah, karena setiap penyakit pasti ada obatnya. Di sisi lain, Islam juga mengajarkan ruqyah syar'iyah sebagai pengobatan spiritual yang menguatkan tauhid dan memohon pertolongan Allah melalui kalam-Nya. Keduanya, medis dan ruqyah, dapat bersinergi membentuk pendekatan holistik dalam mencari kesembuhan, dengan tetap menjadikan Allah sebagai satu-satunya Penyembuh sejati.

Namun, yang terpenting dari semua itu adalah menjaga akidah tauhid kita. Jangan sampai karena keinginan untuk sembuh, kita terjerumus pada praktik-praktik syirik, perdukunan, atau pengobatan yang tidak sesuai syariat. Jadilah muslim yang cerdas, yang senantiasa merujuk kepada Al-Qur'an dan Sunnah dalam setiap langkah kehidupan, termasuk dalam urusan kesehatan.

Semoga Allah SWT senantiasa menganugerahkan kepada kita kesehatan lahir dan batin, memberikan kesabaran dalam menghadapi ujian penyakit, dan membimbing kita untuk selalu berikhtiar di jalan yang diridhai-Nya. Mari kita tutup khotbah ini dengan memohon ampunan dan rahmat dari Allah SWT.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

(Selesai Khotbah Pertama)

KHOTBAH KEDUA

1. Pembukaan

Alhamdulillahirobbil 'alamin. Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam, yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta kesempatan untuk menunaikan ibadah Jumat ini.

Asyhadu an laa ilaaha illallah wahdahu laa syarikalah, wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh, laa nabiyya ba'dah.

Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa shohbihi ajma'in.

Faya ibadallah, ittaqullaha haqqa tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun. Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, di setiap waktu dan kesempatan.

2. Isi Singkat

Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Dari khotbah pertama tadi, kita telah diingatkan kembali betapa Islam mengajarkan kita untuk bersikap bijak dan seimbang dalam menghadapi ujian sakit. Pengobatan dalam Islam adalah sebuah ikhtiar yang holistik, memadukan upaya medis modern yang ilmiah dengan kekuatan ruqyah syar'iyah yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah. Keduanya adalah jalan yang sah dan dianjurkan, asalkan senantiasa berlandaskan pada akidah tauhid yang murni, bahwa kesembuhan sejati datangnya hanyalah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Janganlah kita terjerumus pada praktik-praktik pengobatan yang menyimpang dari syariat, yang melibatkan kesyirikan atau khurafat, karena hal itu justru akan merusak akidah dan menjauhkan kita dari rahmat Allah. Mari kita jadikan setiap ikhtiar pengobatan sebagai bentuk tawakkal dan penghambaan diri kepada-Nya.

Sebagai penutup khotbah ini, marilah kita senantiasa memperbanyak shalawat dan salam kepada junjungan kita, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, keluarga, dan para sahabatnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Ahzab ayat 56:

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيْهِ وَسَلِّمُواْ تَسْلِيمًا

Artinya: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."

Semoga dengan bershalawat, kita mendapatkan syafaat beliau di hari kiamat kelak.

3. Doa Penutup

Allahummaghfir lil muslimina wal muslimat, wal mukminina wal mukminat, al-ahya'i minhum wal amwat. Innaka sami'un qoribun mujibud da'awat.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa guru-guru kami, dan seluruh kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.

Ya Allah, jadikanlah negeri kami, Indonesia, sebagai negeri yang aman, makmur, adil, dan sentosa di bawah lindungan-Mu. Jauhkanlah kami dari segala bencana, fitnah, dan marabahaya. Satukanlah hati para pemimpin kami dan seluruh rakyatnya dalam kebaikan dan ketaatan kepada-Mu.

Ya Allah, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa api neraka.

Rabbana taqabbal minna innaka antas sami'ul 'alim, wa tub 'alaina innaka antat tawwabur rahim.

Subhana rabbika rabbil 'izzati 'amma yasifun, wa salamun 'alal mursalin, walhamdulillahi rabbil 'alamin.

Disusun otomatis dengan bantuan AI. Mohon ditelaah dan disesuaikan sebelum dibacakan.