Khotbah Jumat · Doa & Dzikir · 27 October 2026

Waktu-Waktu Mustajab untuk Berdoa

KHOTBAH PERTAMA

1. Pembukaan

Ma’asyiral Muslimin wal Hadirin rahimakumullah,

Segala puji hanyalah milik Allah, Rabb semesta alam, yang dengan rahmat dan karunia-Nya kita dapat berkumpul di tempat yang mulia ini, menunaikan salah satu kewajiban agung seorang Muslim, shalat Jumat. Kita memuji-Nya atas segala nikmat, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, nikmat iman, Islam, dan kesehatan yang tak terhingga.

Kami bersaksi tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dialah Yang Maha Esa, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Mengabulkan doa hamba-hamba-Nya. Dan kami bersaksi bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya, penutup para nabi dan rasul, pembawa risalah kebenaran yang sempurna. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga beliau, para sahabatnya, serta seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti jejak langkahnya hingga hari kiamat kelak.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar takwa, yaitu dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, baik dalam keadaan terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Takwa adalah bekal terbaik kita menuju kehidupan abadi, kunci kebahagiaan dunia dan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim." (QS. Ali 'Imran: 102)

Saudaraku seiman, dalam kehidupan yang serba cepat dan penuh tantangan di era modern ini, seringkali kita merasa tertekan, cemas, atau bahkan putus asa. Berbagai masalah datang silih berganti, mulai dari urusan pekerjaan, keluarga, kesehatan, hingga pergaulan sosial. Di tengah hiruk pikuk dunia yang kadang membuat kita merasa sendiri, ada satu pintu yang selalu terbuka lebar, satu tempat di mana kita bisa mencurahkan segala isi hati, memohon pertolongan, dan mencari ketenangan sejati: yaitu pintu doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah adalah Dzat Yang Maha Mendengar, Maha Mengabulkan. Dia berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Artinya: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS. Al-Baqarah: 186)

Ayat ini menegaskan betapa dekatnya Allah dengan hamba-Nya, dan betapa Dia siap mengabulkan doa. Namun, sebagai hamba, kita juga diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ada waktu-waktu tertentu yang memiliki keistimewaan, di mana doa lebih besar kemungkinannya untuk dikabulkan. Waktu-waktu mustajab ini adalah anugerah dari Allah, kesempatan emas bagi kita untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya, memohon hajat, dan meraih keberkahan.

Maka, pada kesempatan khotbah Jumat yang mulia ini, marilah kita bersama-sama merenungi dan memahami beberapa waktu mustajab untuk berdoa, agar kita dapat mengoptimalkan ibadah doa kita, menjadikan setiap permohonan kita lebih bermakna, dan meraih ridha serta pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

2. Isi Materi

Poin pertama: Sepertiga Malam Terakhir

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Salah satu waktu yang paling agung dan mustajab untuk berdoa adalah pada sepertiga malam terakhir. Ini adalah waktu di mana kebanyakan manusia terlelap dalam tidurnya, namun bagi mereka yang memilih untuk bangun, bermunajat, dan merendahkan diri di hadapan Allah, pintu langit terbuka lebar. Keutamaan waktu ini dijelaskan secara gamblang dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ؟ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟

Artinya: "Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir pada setiap malamnya. Kemudian berfirman: 'Siapa saja yang berdoa kepada-Ku, Aku kabulkan. Siapa saja yang meminta kepada-Ku, Aku beri. Siapa saja yang memohon ampun kepada-Ku, Aku ampuni.'" (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758)

Penjelasan:

Hadits ini menunjukkan betapa istimewanya sepertiga malam terakhir. Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan keagungan-Nya, "turun" ke langit dunia – sebuah kiasan yang menunjukkan kedekatan dan perhatian-Nya yang luar biasa kepada hamba-hamba-Nya pada waktu tersebut. Pada saat itu, Allah menyeru hamba-Nya untuk berdoa, meminta, dan memohon ampunan. Ini bukan sekadar seruan biasa, melainkan sebuah jaminan dari Dzat Yang Maha Kuasa bahwa doa akan dikabulkan, permintaan akan diberi, dan dosa akan diampuni. Waktu ini adalah puncak ketenangan, di mana hati lebih mudah khusyuk, pikiran lebih jernih, dan jiwa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Ini adalah waktu di mana kita bisa benar-benar fokus, tanpa gangguan hiruk pikuk dunia, untuk menyampaikan segala keluh kesah, harapan, dan penyesalan kita.

Contoh Aplikatif:

Bagi kita yang hidup di perkotaan dengan jadwal padat, bangun di sepertiga malam terakhir mungkin terasa berat. Namun, ini adalah investasi spiritual yang sangat berharga. Cobalah untuk mengatur alarm 30-60 menit sebelum waktu Subuh. Setelah bangun, berwudhu, dirikan shalat tahajjud dua rakaat atau lebih, lalu luangkan waktu untuk berdoa. Sampaikan segala keinginan Anda, mulai dari kelancaran rezeki, kemudahan urusan pekerjaan, kesembuhan penyakit, keharmonisan keluarga, hingga permohonan ampunan atas dosa-dosa. Jangan lupa untuk juga mendoakan orang tua, pasangan, anak-anak, dan kaum Muslimin secara umum. Manfaatkan juga waktu ini untuk beristighfar dan berdzikir. Meskipun hanya 15-20 menit, kualitas ibadah di waktu ini seringkali jauh melampaui ibadah di waktu lain. Jadikan ini sebagai rutinitas, dan rasakan perubahan positif dalam hidup Anda.

Hikmah:

Hikmah dari mengoptimalkan doa di sepertiga malam terakhir sangatlah besar. Pertama, ini melatih kedisiplinan dan kesungguhan kita dalam beribadah, menunjukkan bahwa kita mendahulukan Allah di atas kenyamanan tidur. Kedua, ia menumbuhkan rasa ketergantungan total kepada Allah, menyadari bahwa hanya Dia-lah tempat kita bergantung. Ketiga, secara psikologis, bangun di waktu sunyi ini dapat memberikan ketenangan batin, mengurangi stres, dan meningkatkan fokus untuk menghadapi hari. Keempat, doa yang dikabulkan akan meningkatkan keimanan dan keyakinan kita kepada janji Allah. Terakhir, kebiasaan ini akan membentuk pribadi yang lebih sabar, bersyukur, dan selalu merasa diawasi oleh Allah, sehingga mendorong kita untuk senantiasa berbuat kebaikan dan menjauhi kemaksiatan.

Poin kedua: Antara Azan dan Iqamah

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Waktu mustajab berikutnya yang seringkali terlewatkan oleh banyak dari kita, padahal sangat mudah untuk diamalkan, adalah waktu antara azan dan iqamah. Ini adalah jeda singkat yang diberikan sebelum shalat fardhu dimulai, sebuah kesempatan emas untuk bermunajat kepada Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ

Artinya: "Doa tidak akan ditolak antara azan dan iqamah." (HR. Abu Dawud no. 521, Tirmidzi no. 212, Ahmad 3/155. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih).

Penjelasan:

Hadits ini memberikan kabar gembira yang luar biasa. "Doa tidak akan ditolak" adalah jaminan yang sangat kuat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini menunjukkan betapa Allah sangat menghargai waktu singkat ini, di mana seorang hamba telah memenuhi panggilan-Nya untuk shalat, dan sedang menunggu untuk memulai ibadah yang agung. Pada waktu ini, hati seorang Muslim cenderung lebih siap dan fokus untuk beribadah, setelah mendengar panggilan azan yang syahdu dan sebelum memulai shalat yang khusyuk. Jeda ini adalah momen transisi dari kesibukan dunia menuju konsentrasi penuh dalam shalat, menjadikannya waktu yang sangat tepat untuk menyampaikan permohonan kepada Allah.

Contoh Aplikatif:

Di tengah kesibukan kota, kita sering terburu-buru datang ke masjid atau mushalla, bahkan kadang terlambat. Namun, jika kita membiasakan diri untuk datang lebih awal setelah azan berkumandang, kita akan mendapatkan kesempatan emas ini. Setelah shalat sunnah rawatib (jika ada) atau shalat tahiyatul masjid, luangkan beberapa menit untuk berdoa. Jangan sibuk dengan smartphone atau berbincang-bincang. Gunakan waktu ini untuk mengangkat tangan, memohon kepada Allah. Anda bisa berdoa untuk kelancaran pekerjaan yang sedang dihadapi, kemudahan dalam studi anak-anak, kesehatan keluarga, atau bahkan untuk hal-hal kecil yang Anda inginkan dalam hidup. Misalnya, jika Anda sedang mencari solusi untuk masalah tertentu, mohonlah petunjuk dan kemudahan dari Allah di waktu ini. Ini adalah waktu yang singkat namun penuh berkah, yang bisa kita manfaatkan lima kali sehari.

Hikmah:

Mengamalkan doa di antara azan dan iqamah memiliki beberapa hikmah. Pertama, ia melatih kita untuk lebih menghargai waktu dan disiplin dalam ibadah, mendorong kita untuk datang ke masjid lebih awal. Kedua, ia menumbuhkan kebiasaan berdoa secara rutin, tidak hanya saat ada masalah besar, tetapi juga dalam keseharian. Ketiga, ini adalah bentuk pengakuan kita akan kekuasaan Allah dan ketergantungan kita kepada-Nya, bahkan dalam hal-hal kecil sekalipun. Keempat, dengan rutin berdoa di waktu ini, kita akan merasakan ketenangan dan keyakinan bahwa Allah senantiasa mendengar dan memperhatikan setiap permohonan hamba-Nya. Ini juga menjadi pengingat bahwa setiap jeda dalam hidup, bahkan yang singkat sekalipun, bisa menjadi ladang pahala dan kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Poin ketiga: Saat Sujud dalam Shalat

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Momen sujud dalam shalat adalah salah satu puncak kedekatan seorang hamba dengan Rabb-nya. Dalam posisi ini, kita meletakkan bagian tubuh yang paling mulia, yaitu dahi, di atas tanah, sebagai bentuk kerendahan hati dan ketundukan total kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak heran jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan kita untuk memperbanyak doa pada saat ini. Beliau bersabda:

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

Artinya: "Sedekat-dekatnya seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang sujud, maka perbanyaklah doa (di dalamnya)." (HR. Muslim no. 482).

Penjelasan:

Hadits ini dengan jelas menyatakan bahwa sujud adalah posisi di mana seorang hamba berada pada titik terdekat dengan Penciptanya. Mengapa demikian? Karena dalam sujud, kita melepaskan segala keangkuhan dan kesombongan, menempatkan diri kita sebagai makhluk yang lemah dan membutuhkan di hadapan Dzat Yang Maha Kuasa. Ini adalah ekspresi ketundukan yang paling dalam, di mana jiwa dan raga bersatu dalam pengakuan akan kebesaran Allah. Pada momen inilah, hati menjadi sangat tulus, pikiran menjadi sangat fokus, dan permohonan yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam memiliki potensi besar untuk dikabulkan. Oleh karena itu, Rasulullah menganjurkan kita untuk memperbanyak doa di dalamnya, bukan hanya membaca tasbih sujud saja.

Contoh Aplikatif:

Dalam shalat fardhu maupun shalat sunnah, setelah membaca tasbih sujud (Subhana Rabbiyal A'la), luangkan waktu sejenak untuk berdoa. Jangan terburu-buru bangkit. Gunakan momen ini untuk menyampaikan doa-doa pribadi Anda. Misalnya, jika Anda sedang menghadapi tekanan pekerjaan yang berat, mohonlah kekuatan dan kemudahan. Jika Anda memiliki masalah keluarga, mohonlah keharmonisan dan solusi terbaik. Bagi para pelajar atau mahasiswa, mohonlah kemudahan dalam belajar dan pemahaman ilmu. Bahkan, jika Anda merasa lelah atau stres karena rutinitas harian, mohonlah ketenangan hati dan kesabaran. Doa ini bisa dalam bahasa Arab yang diajarkan atau dalam bahasa Indonesia yang Anda pahami, asalkan dilakukan dengan khusyuk dan tulus. Ingatlah, Allah Maha Mendengar setiap bisikan hati hamba-Nya, bahkan dalam sujud yang sunyi.

Hikmah:

Memperbanyak doa saat sujud memiliki hikmah yang mendalam. Pertama, ia meningkatkan kualitas shalat kita, menjadikannya lebih dari sekadar gerakan fisik, tetapi juga komunikasi spiritual yang intens dengan Allah. Kedua, ia menumbuhkan rasa rendah hati dan tawadhu' dalam diri, menyadari bahwa kita hanyalah hamba yang lemah. Ketiga, kebiasaan ini akan memperkuat ikatan batin kita dengan Allah, menjadikan shalat sebagai tempat pelarian dan sumber kekuatan di tengah badai kehidupan. Keempat, doa yang dipanjatkan dalam sujud, dengan segala kerendahan hati, akan menumbuhkan keyakinan bahwa Allah pasti akan menolong hamba-Nya yang berserah diri. Ini juga mengajarkan kita bahwa dalam setiap ibadah, ada kesempatan untuk meraih lebih banyak kebaikan dan keberkahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Poin keempat: Hari Jumat, Terutama Setelah Ashar

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Hari Jumat adalah hari yang istimewa dalam Islam, yang disebut sebagai sayyidul ayyam, penghulu segala hari. Di hari ini, terdapat satu waktu yang sangat mustajab untuk berdoa, di mana setiap permohonan seorang Muslim akan dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَقَالَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا

Artinya: "Sesungguhnya pada hari Jumat itu ada satu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim berdiri shalat memohon kebaikan kepada Allah pada waktu itu melainkan Allah akan memberikannya." Dan beliau mengisyaratkan dengan tangannya bahwa waktu itu sedikit. (HR. Bukhari no. 935 dan Muslim no. 852).

Penjelasan:

Hadits ini menegaskan adanya "sa'atun mustajabah" atau waktu mustajab di hari Jumat. Meskipun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak secara spesifik menyebutkan kapan waktu itu, para ulama telah berijtihad dan sebagian besar berpendapat bahwa waktu tersebut adalah setelah shalat Ashar hingga terbenamnya matahari. Ini didasarkan pada beberapa riwayat dan penjelasan sahabat. Pada waktu ini, suasana hati umat Muslim cenderung lebih tenang setelah menunaikan shalat Ashar, dan mereka sedang menunggu datangnya waktu Maghrib. Ini adalah momen yang tepat untuk merenung, berdzikir, dan memanjatkan doa. Keistimewaan hari Jumat, ditambah dengan keberadaan waktu mustajab ini, menjadikan hari Jumat sebagai hari yang penuh peluang untuk meraih keberkahan dan pengabulan doa.

Contoh Aplikatif:

Bagi kita yang sibuk dengan pekerjaan atau aktivitas lainnya, hari Jumat seringkali menjadi hari yang padat. Namun, luangkan waktu khusus setelah shalat Ashar di hari Jumat. Jika memungkinkan, tetaplah di masjid setelah shalat Ashar, atau pulanglah ke rumah dan carilah tempat yang tenang. Hindari dulu aktivitas yang tidak penting, seperti bermain media sosial atau menonton televisi. Fokuskan diri untuk berdzikir, membaca Al-Qur'an, dan berdoa. Anda bisa berdoa untuk kesuksesan di dunia dan akhirat, perlindungan dari musibah, kelancaran usaha, kesehatan orang-orang terkasih, atau bahkan untuk kebaikan umat Islam di seluruh dunia. Ajak juga keluarga Anda untuk memanfaatkan waktu ini bersama-sama, menciptakan suasana spiritual yang positif di rumah. Jadikan setiap Jumat sebagai hari untuk "mengisi ulang" spiritualitas Anda dan memperbarui harapan kepada Allah.

Hikmah:

Memanfaatkan waktu mustajab di hari Jumat, khususnya setelah Ashar, memiliki hikmah yang besar. Pertama, ia mengajarkan kita untuk menghargai hari Jumat sebagai hari yang istimewa, bukan hanya sekadar hari libur atau akhir pekan. Kedua, ia menumbuhkan kebiasaan untuk secara rutin mengalokasikan waktu khusus untuk bermunajat kepada Allah, terlepas dari kesibukan dunia. Ketiga, doa yang dipanjatkan pada waktu ini, dengan harapan dikabulkan, akan meningkatkan optimisme dan keyakinan kita terhadap janji Allah. Keempat, ini adalah kesempatan untuk mempererat hubungan kita dengan Allah secara kolektif, karena banyak umat Muslim di seluruh dunia juga sedang berdoa pada waktu yang sama. Terakhir, dengan rutin berdoa di waktu ini, kita akan merasakan kedamaian batin dan kekuatan spiritual yang membantu kita menghadapi tantangan hidup selama sepekan ke depan.

3. Penutup

Ma’asyiral Muslimin wal Hadirin rahimakumullah,

Demikianlah beberapa waktu mustajab yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita. Sepertiga malam terakhir, antara azan dan iqamah, saat sujud dalam shalat, dan hari Jumat terutama setelah Ashar. Ini adalah anugerah dan kemudahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi hamba-hamba-Nya yang ingin mendekat dan memohon pertolongan.

Mari kita jadikan informasi ini bukan hanya sekadar pengetahuan, melainkan motivasi untuk beramal. Di tengah kesibukan hidup, di tengah gempuran informasi dan tuntutan duniawi, jangan sampai kita melupakan kekuatan doa. Doa adalah senjata seorang mukmin, jembatan penghubung antara hamba dengan Rabb-nya, dan kunci segala kebaikan.

Jangan pernah merasa putus asa dalam berdoa, karena Allah tidak pernah bosan mendengar permohonan hamba-Nya. Teruslah berdoa, teruslah berharap, dan iringi doa kita dengan ikhtiar serta ketaatan kepada perintah-Nya. Yakinlah, Allah pasti akan mengabulkan doa kita, baik dengan memberikan apa yang kita minta, menggantinya dengan yang lebih baik, atau menyimpannya sebagai pahala di akhirat kelak.

Semoga kita semua termasuk hamba-hamba Allah yang senantiasa memanfaatkan waktu-waktu mustajab ini, yang doanya dikabulkan, dan yang senantiasa berada dalam lindungan serta rahmat-Nya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHOTBAH KEDUA

1. Pembukaan

Alhamdulillahilladzi hadana lihadza wama kunna linahtadiya laula an hadanallah. Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh, la nabiyya ba'dah.

Allahumma shalli wa sallim 'ala sayyidina Muhammadin wa 'ala alihi wa shahbihi ajma'in.

Ayyuhal hadirun, ittaqullaha haqqa tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun. Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sebenar-benar takwa, yaitu dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, baik dalam keadaan terang maupun tersembunyi.

2. Isi Singkat

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Setelah kita menyimak bersama tentang pentingnya mengoptimalkan ibadah doa pada waktu-waktu mustajab, marilah kita jadikan ilmu ini sebagai bekal untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Jangan biarkan kesibukan dunia melalaikan kita dari munajat kepada-Nya. Ingatlah, doa adalah inti ibadah, jembatan penghubung kita dengan Rabb semesta alam. Manfaatkanlah sepertiga malam terakhir, antara azan dan iqamah, saat sujud, dan khususnya di hari Jumat ini setelah waktu Ashar hingga terbenam matahari. Semoga dengan kesungguhan kita memanfaatkan waktu-waktu istimewa ini, doa-doa kita lebih mudah dikabulkan dan menjadi sarana peningkatan iman serta takwa kita.

Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, maka marilah kita pun bershalawat kepada beliau. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penghormatan yang setinggi-tingginya." (QS. Al-Ahzab: 56)

Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad, kama shallaita 'ala Ibrahim wa 'ala ali Ibrahim, wa barik 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad, kama barakta 'ala Ibrahim wa 'ala ali Ibrahim fil 'alamina innaka hamidum majid.

3. Doa Penutup

Allahummaghfir lil muslimina wal muslimat, wal mu'minina wal mu'minat, al-ahya'i minhum wal amwat. Innaka sami'un qaribun mujibud da'awat.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa para guru kami, dan dosa seluruh kaum muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Dekat, dan Maha Mengabulkan doa.

Ya Allah, jadikanlah negeri kami, Indonesia, sebagai negeri yang aman, damai, makmur, dan sentosa di bawah lindungan-Mu. Berikanlah petunjuk kepada para pemimpin kami agar senantiasa berlaku adil dan bijaksana dalam memimpin rakyat. Jauhkanlah bangsa kami dari segala fitnah, bencana, dan marabahaya.

Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa api neraka.

Rabbana taqabbal minna innaka antas sami'ul 'alim, wa tub 'alaina innaka antat tawwabur rahim.

Subhana rabbika rabbil 'izzati 'amma yasifun, wa salamun 'alal mursalin, walhamdulillahi rabbil 'alamin.

Disusun otomatis dengan bantuan AI. Mohon ditelaah dan disesuaikan sebelum dibacakan.