Khotbah Jumat · Doa & Dzikir · 17 October 2026

Dzikir sebagai Penenang Jiwa

KHOTBAH PERTAMA

1. Pembukaan

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ فِي ذِكْرِهِ طُمَأْنِيْنَةً لِلْقُلُوْبِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الْمَلِكُ الْعَلَّامُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَاحِبُ الْمَقَامِ الْمَحْمُوْدِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Ma’asyiral Muslimin, Sidang Jumat yang dirahmati Allah SWT.

Puji syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah Azza wa Jalla, Tuhan yang memegang kendali atas setiap helai napas dan detak jantung kita. Dialah yang memberikan kita nikmat iman, Islam, serta kesehatan, sehingga pada siang yang penuh berkah ini kita dapat melangkahkan kaki menuju rumah-Nya untuk menunaikan kewajiban shalat Jumat. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada baginda Nabi Muhammad SAW, teladan abadi yang membawa cahaya kebenaran bagi seluruh alam.

Selaku khatib, saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada jamaah sekalian, marilah kita terus berupaya meningkatkan kualitas takwa kita. Takwa bukan sekadar kata yang terucap di lisan, melainkan sebuah kesadaran mendalam untuk menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, baik dalam kesunyian maupun di tengah keramaian. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang kian bising, takwa adalah satu-satunya kompas yang akan menyelamatkan kita dari ketersesatan.

2. Isi Materi

Dzikir sebagai Penawar Kegelisahan Hati di Era Modern

Ma’asyiral Muslimin yang dirahmati Allah,

Kita hidup di sebuah zaman di mana kecepatan menjadi panglima. Segala sesuatu bergerak begitu cepat, mulai dari informasi yang masuk ke gawai kita hingga tuntutan pekerjaan yang seolah tiada habisnya. Di tengah kemajuan teknologi dan kemudahan fasilitas perkotaan, ironisnya, banyak manusia yang justru merasa jiwanya kering dan hampa. Kegelisahan, kecemasan akan masa depan, serta rasa tidak puas terhadap apa yang dimiliki menjadi penyakit mental yang umum dijumpai. Dalam kondisi seperti inilah, kita diingatkan oleh Allah SWT melalui firman-Nya dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya: (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra’d: 28).

Ayat ini memberikan sebuah formula spiritual yang sangat jelas. Allah tidak mengatakan bahwa ketenangan hati didapat dari tumpukan harta, tingginya jabatan, atau banyaknya pengikut di media sosial. Allah menegaskan bahwa kunci ketenangan hanyalah dengan dzikrullah atau mengingat Allah. Secara bahasa, dzikir berarti mengingat, menyebut, atau menjaga kesadaran. Ketika seseorang berdzikir, ia sedang menyambungkan frekuensi jiwanya yang terbatas kepada Zat Yang Maha Tak Terbatas.

Penjelasan mendalam dari ayat ini adalah bahwa hati manusia memiliki sebuah "ruang kosong" yang tidak akan pernah bisa diisi oleh materi apa pun. Ruang itu hanya bisa diisi oleh Sang Pencipta. Contoh aplikatifnya dalam kehidupan perkotaan adalah saat kita terjebak dalam kemacetan yang melelahkan atau saat menghadapi tekanan target di kantor. Alih-alih mengeluh atau meluapkan emosi di media sosial yang justru menambah beban pikiran, cobalah untuk membasahi lidah dengan Istighfar atau Tasbih. Rasakan bagaimana setiap tarikan napas yang dibarengi dengan asma Allah mampu menurunkan detak jantung yang kencang dan menenangkan saraf yang tegang.

Hikmah dari poin ini adalah bahwa dzikir berfungsi sebagai jangkar. Di tengah badai kehidupan yang mengguncang kapal eksistensi kita, dzikir menjaga agar kita tidak hanyut terbawa arus depresi dan keputusasaan. Dengan mengingat Allah, kita menyadari bahwa ada kekuatan besar yang mengatur segalanya, sehingga beban yang kita pikul terasa lebih ringan karena kita sandarkan kepada-Nya.

Dzikir sebagai Benteng dari Fitnah Media Sosial

Sidang Jumat yang dimuliakan Allah,

Masyarakat perkotaan saat ini hampir tidak bisa lepas dari media sosial. Setiap hari kita disuguhi dengan gaya hidup orang lain yang tampak sempurna, pencapaian rekan kerja yang memukau, hingga perdebatan yang tak jarang memicu kebencian. Fenomena ini sering kali melahirkan penyakit hati seperti hasad (iri dengki), riya (pamer), dan ujub (bangga diri). Tanpa sadar, kita sering membandingkan "panggung belakang" kehidupan kita yang penuh kekurangan dengan "panggung depan" kehidupan orang lain yang penuh polesan.

Rasulullah SAW memberikan resep agar kita tetap memiliki kendali diri melalui dzikir. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, beliau bersabda:

كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

Artinya: Dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan (amal), dan dicintai oleh Ar-Rahman (Allah): Subhanallahi wa bihamdihi, Subhanallahil 'Azhim. (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini mengajarkan kita tentang efisiensi spiritual. Di tengah kesibukan kita menggulir layar ponsel, ada amalan yang sangat ringan namun memiliki bobot luar biasa di sisi Allah. Penjelasannya adalah bahwa dzikir berfungsi sebagai filter mental. Ketika kita terbiasa memuji Allah dengan kalimat Subhanallah (Maha Suci Allah), maka secara otomatis kita akan merasa kecil di hadapan-Nya. Kesadaran ini akan membentengi kita dari keinginan untuk pamer atau merasa lebih hebat dari orang lain di dunia maya.

Contoh aplikatifnya, sebelum kita membuka aplikasi media sosial, mulailah dengan dzikir singkat. Saat melihat keberhasilan orang lain, ucapkanlah Masya Allah Tabarakallah sebagai bentuk pengakuan bahwa semua itu adalah kehendak Allah. Hal ini akan menghindarkan kita dari rasa iri. Sebaliknya, saat kita ingin mengunggah sesuatu, dzikir akan mengingatkan kita untuk menjaga niat agar tidak terjebak dalam riya.

Hikmah yang dapat kita petik adalah dzikir menciptakan "jarak suci" antara diri kita dengan hiruk-pukuk dunia digital. Dzikir membuat kita tetap sadar (mindful) bahwa dunia ini hanyalah sementara dan apa yang tampak di layar bukanlah hakikat kebahagiaan yang sesungguhnya. Dengan dzikir, kita tidak lagi menjadi budak validasi manusia, melainkan pemburu ridha Sang Pencipta.

Konsistensi Dzikir dalam Rutinitas Masyarakat Urban

Ma’asyiral Muslimin yang dirahmati Allah,

Sering kali muncul alasan bahwa masyarakat perkotaan terlalu sibuk untuk berdzikir. Kita merasa dzikir hanya bisa dilakukan di atas sajadah setelah shalat lima waktu. Padahal, Islam adalah agama yang sangat fleksibel. Dzikir tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Allah SWT memuji orang-orang yang berakal (ulul albab) dalam Al-Qur'an sebagai mereka yang mengingat Allah dalam segala kondisi.

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits qudsi yang sangat menyentuh hati:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ

Artinya: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku pun mengingatnya dalam diri-Ku. Dan jika ia mengingat-Ku dalam suatu kumpulan, Aku pun mengingatnya dalam kumpulan yang lebih baik dari mereka (para malaikat). (HR. Bukhari dan Muslim).

Penjelasan dari hadits ini sangat luar biasa. Allah menjanjikan kehadiran-Nya bagi siapa saja yang mengingat-Nya. Bagi masyarakat perkotaan yang sering merasa kesepian di tengah keramaian (lonely in the crowd), hadits ini adalah penghibur yang nyata. Kita tidak pernah benar-benar sendirian jika lisan dan hati kita terpaut pada Allah.

Contoh aplikatifnya adalah dengan memanfaatkan "waktu-waktu tunggu". Dalam kehidupan urban, kita banyak menghabiskan waktu untuk menunggu: menunggu lift, menunggu transportasi umum, menunggu pesanan makanan, atau menunggu lampu merah. Alih-alih membuang waktu dengan melamun atau sekadar melihat hal-hal yang tidak bermanfaat, gunakanlah waktu tersebut untuk berdzikir. Jadikan setiap langkah kaki menuju kantor sebagai tasbih, setiap ketikan di papan tik sebagai tahmid, dan setiap keputusan dalam rapat sebagai bentuk tawakal kepada Allah.

Hikmah dari poin ini adalah dzikir mengubah rutinitas yang membosankan menjadi ibadah yang bernilai pahala. Dzikir menjadikan hidup kita lebih produktif secara spiritual. Ketika seorang hamba konsisten mengingat Allah di waktu luangnya, maka Allah akan mengingat dan menolongnya di waktu sempitnya. Inilah rahasia mengapa ada orang yang tampak sangat sibuk namun wajahnya tetap tenang dan urusannya selalu dimudahkan oleh Allah.

Dzikir sebagai Sarana Meraih Cinta dan Ampunan Allah

Sidang Jumat yang dirahmati Allah,

Tujuan akhir dari setiap ibadah kita adalah meraih cinta dan ampunan Allah SWT. Di kota besar yang penuh dengan godaan kemaksiatan, kita sering kali tergelincir dalam dosa, baik yang disengaja maupun tidak. Dzikir, terutama istighfar, adalah penghapus noda-noda hitam di dalam hati. Tanpa dzikir, hati akan mengeras seperti batu, sulit menerima nasihat, dan kehilangan kepekaan sosial.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 152:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

Artinya: Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku. (QS. Al-Baqarah: 152).

Ayat ini adalah janji timbal balik yang sangat indah. Bayangkan, jika kita yang merupakan makhluk kecil dan penuh dosa ini mengingat Allah yang Maha Agung, maka Allah Sang Penguasa Semesta Alam akan menyebut nama kita di hadapan para malaikat-Nya. Penjelasan dari ayat ini menunjukkan betapa besarnya kasih sayang Allah. Dia tidak membutuhkan dzikir kita, namun kitalah yang sangat membutuhkan diingat oleh-Nya.

Contoh aplikatifnya adalah dengan membiasakan dzikir pagi dan petang (ma'tsurat). Di tengah kesibukan warga kota, meluangkan waktu 10-15 menit setelah Subuh dan sebelum Maghrib untuk berdzikir secara khusus akan memberikan "energi spiritual" yang cukup untuk menghadapi tantangan seharian. Dzikir pagi adalah bekal kekuatan, sedangkan dzikir petang adalah sarana evaluasi dan pembersihan diri dari residu negatif yang kita temui sepanjang hari.

Hikmah yang sangat dalam dari poin terakhir ini adalah bahwa dzikir merupakan bentuk syukur tertinggi. Dengan berdzikir, kita mengakui bahwa segala pencapaian kita di dunia ini—karir yang cemerlang, keluarga yang bahagia, rumah yang nyaman—semuanya adalah titipan dari Allah. Kesadaran ini akan melahirkan sifat rendah hati (tawadhu). Orang yang ahli dzikir tidak akan sombong saat di puncak, dan tidak akan hancur saat berada di bawah, karena ia tahu bahwa Allah selalu bersamanya.

3. Penutup

Ma’asyiral Muslimin yang dirahmati Allah,

Sebagai kesimpulan dari khotbah kita hari ini, marilah kita sadari bahwa dzikir bukan sekadar aktivitas lisan, melainkan sebuah kebutuhan mendasar bagi jiwa kita. Di tengah dunia yang semakin bising dan menuntut, dzikir adalah tempat kita beristirahat. Ia adalah oase di tengah padang pasir kehidupan perkotaan yang gersang.

Mari kita mulai membiasakan diri untuk tidak membiarkan waktu berlalu tanpa mengingat Allah. Jadikanlah dzikir sebagai gaya hidup, bukan sekadar pelarian saat kita sedang dirundung masalah. Dengan dzikir, hati menjadi tenang, pikiran menjadi jernih, dan langkah kaki kita akan selalu dibimbing oleh cahaya-Nya. Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk ke dalam golongan adz-dzakirina lillaha katsiran wadz-dzakirat, yaitu laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat Allah, sehingga kita mendapatkan ampunan dan pahala yang besar.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHOTBAH KEDUA

1. Pembukaan

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلاَئِقِ وَالْبَشَرِ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى فِيمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa, yakni dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketahuilah bahwa tidak ada bekal yang lebih mulia untuk menghadap Allah selain ketakwaan yang terpatri di dalam dada.

2. Isi Singkat

Melalui khotbah yang kedua ini, khatib ingin menegaskan kembali betapa pentingnya kita menjaga lisan dan hati agar senantiasa basah dengan dzikrullah. Di era yang penuh dengan kebisingan informasi dan fitnah media sosial ini, jiwa kita sangat rentan mengalami kegelisahan dan kekosongan. Dzikir bukan sekadar rutinitas lisan, melainkan benteng kokoh yang melindungi kesehatan mental dan spiritual kita. Dengan mengingat Allah, segala beban dunia yang terasa berat akan menjadi ringan, dan segala keraguan akan berganti dengan keyakinan.

Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Ahzab ayat 56:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya."

Maka dari itu, marilah kita perbanyak shalawat kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, sebagai bentuk dzikir dan kecintaan kita kepada beliau, dengan harapan kita mendapatkan syafaatnya di hari kiamat kelak.

3. Doa Penutup

Marilah kita menundukkan kepala sejenak, memohon kepada Allah SWT dengan hati yang khusyuk:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa seluruh kaum muslimin. Karuniakanlah ketenangan di dalam hati kami melalui dzikir kepada-Mu. Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang selalu bersyukur dalam kelapangan dan bersabar dalam kesempitan.

Ya Allah, berikanlah kedamaian, kemakmuran, dan perlindungan bagi bangsa dan negara kami, Indonesia. Pimpinlah para pemimpin kami agar senantiasa berjalan di atas jalan yang Engkau ridhai, serta jauhkanlah negeri kami dari segala bencana, perpecahan, dan fitnah yang merusak.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ.

Disusun otomatis dengan bantuan AI. Mohon ditelaah dan disesuaikan sebelum dibacakan.