Khotbah Jumat · Akhlak & Muamalah · 15 September 2026

Sabar dan Syukur, Dua Sayap Kebahagiaan Seorang Mukmin

KHOTBAH PERTAMA

1. Pembukaan

Alhamdulillahirabbil 'alamin, segala puji hanya milik Allah SWT, Rabb semesta alam, yang telah melimpahkan rahmat, taufik, hidayah, serta inayah-Nya kepada kita semua. Sehingga pada hari yang mulia ini, hari Jumat yang penuh berkah, kita dapat berkumpul di rumah-Nya yang suci ini dalam keadaan sehat wal 'afiat, guna menunaikan salah satu kewajiban kita sebagai seorang Muslim, yaitu shalat Jumat berjamaah.

Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lah, ilahan wahidan ahadan shamadan, lam yalid walam yulad walam yakun lahu kufuwan ahad. Wa asyhadu anna sayyidana wa nabiyyana Muhammadan abduhu wa rasuluh, shadiqul wa'dil amin, al-mab'utsu rahmatan lil 'alamin.

Allahumma shalli wa sallim wa barik 'ala sayyidina Muhammad, wa 'ala alihi wa shahbihi ajma'in. Amma ba'd.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas takwa kita kepada Allah SWT, takwa dalam arti yang sebenar-benarnya. Yaitu dengan senantiasa menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, baik dalam keadaan terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Karena sesungguhnya, takwa adalah sebaik-baik bekal yang akan kita bawa menghadap Allah SWT di hari akhir kelak. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Ali Imran ayat 102:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim."

Ayat ini mengingatkan kita akan pentingnya menjaga keimanan dan ketakwaan hingga akhir hayat. Takwa adalah kunci kebahagiaan di dunia dan akhirat.

2. Isi Materi

Poin pertama: Hakikat Sabar sebagai Pilar Keimanan

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Dalam kehidupan ini, kita seringkali dihadapkan pada berbagai situasi yang menguji ketahanan jiwa. Ada kalanya kita merasa senang, bahagia, dan semua berjalan sesuai harapan. Namun tak jarang pula, kita dihadapkan pada kesulitan, kesedihan, bahkan musibah yang datang silih berganti. Dalam menghadapi segala dinamika kehidupan inilah, seorang mukmin dituntut untuk memiliki dua sifat agung yang menjadi kunci kebahagiaan sejati: sabar dan syukur. Pada kesempatan khotbah Jumat yang mulia ini, kita akan mengupas tuntas hakikat kedua sifat tersebut, dimulai dengan sabar.

Sabar bukanlah sekadar sikap pasrah tanpa daya, apalagi menyerah pada keadaan. Lebih dari itu, sabar adalah sebuah kekuatan spiritual, sebuah pilar keimanan yang kokoh. Sabar berarti menahan diri dari keluh kesah, menahan lisan dari ucapan yang tidak pantas, menahan hati dari rasa putus asa, serta menahan anggota badan dari perbuatan yang dilarang Allah, dalam menghadapi segala bentuk ujian dan cobaan. Sabar adalah keteguhan hati untuk tetap berada di jalan kebenaran, istiqamah dalam ketaatan, menjauhi kemaksiatan, dan tabah menghadapi takdir Allah yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan kita. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 153:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar."

Ayat ini menegaskan bahwa sabar adalah salah satu kunci untuk mendapatkan pertolongan Allah. Ketika kita menghadapi kesulitan, sabar dan salat menjadi dua penopang utama yang akan menguatkan kita.

Dalam konteks kehidupan masyarakat perkotaan yang serba cepat dan penuh tekanan, sabar menjadi semakin relevan. Bayangkan, ketika Anda terjebak dalam kemacetan panjang, atau proyek pekerjaan mengalami kendala, atau bahkan menghadapi komentar negatif di media sosial. Tanpa kesabaran, emosi bisa meledak, perkataan kotor terucap, dan tindakan impulsif bisa terjadi, yang pada akhirnya merugikan diri sendiri dan orang lain. Sabar juga berarti konsisten dalam menjalankan ibadah di tengah kesibukan, atau sabar dalam mendidik anak-anak di tengah godaan gadget. Sabar dalam berinteraksi di dunia maya, tidak mudah terpancing emosi, dan selalu menyaring informasi sebelum bereaksi, adalah bentuk sabar yang sangat dibutuhkan di era digital ini.

Hikmah dari kesabaran sangatlah besar. Orang yang sabar akan mendapatkan pertolongan dan keberkahan dari Allah. Hatinya akan lebih tenang, jiwanya lebih damai, dan pikirannya lebih jernih dalam mencari solusi. Kesabaran juga membentuk pribadi yang tangguh, tidak mudah menyerah, dan memiliki mental baja dalam menghadapi setiap tantangan. Ia akan melihat setiap ujian sebagai peluang untuk tumbuh dan belajar. Dengan sabar, seorang mukmin akan meraih derajat yang tinggi di sisi Allah, sebagaimana firman-Nya dalam Surat Az-Zumar ayat 10: "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas." Ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan orang-orang yang sabar di mata Allah SWT.

Poin kedua: Hakikat Syukur sebagai Manifestasi Ketaatan

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Setelah memahami hakikat sabar, kini marilah kita beralih pada sayap kebahagiaan yang kedua, yaitu syukur. Jika sabar adalah kemampuan menahan diri dalam menghadapi kesulitan, maka syukur adalah kemampuan mengakui dan menghargai segala nikmat yang Allah berikan, baik yang besar maupun yang kecil, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi. Syukur bukanlah sekadar ucapan "alhamdulillah" di lisan, melainkan sebuah manifestasi ketaatan yang melibatkan tiga dimensi: hati, lisan, dan perbuatan.

Syukur dengan hati berarti meyakini sepenuhnya bahwa segala nikmat yang kita peroleh, sekecil apa pun itu, datangnya murni dari Allah SWT. Syukur dengan lisan berarti senantiasa memuji dan mengagungkan nama Allah, mengucapkan "alhamdulillah" dalam setiap kesempatan. Sedangkan syukur dengan perbuatan berarti menggunakan nikmat yang telah diberikan Allah sesuai dengan kehendak-Nya, dalam rangka ketaatan dan kebaikan. Misalnya, menggunakan kesehatan untuk beribadah, harta untuk bersedekah, ilmu untuk menyebarkan kebaikan, dan waktu luang untuk hal-hal yang bermanfaat. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Ibrahim ayat 7:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Artinya: "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih"."

Ayat ini adalah janji sekaligus peringatan dari Allah. Janji bahwa syukur akan mendatangkan penambahan nikmat, dan peringatan bahwa kufur nikmat akan berujung pada azab yang pedih.

Dalam kehidupan sehari-hari, terutama di tengah hiruk pikuk perkotaan dan dominasi media sosial, praktik syukur seringkali terabaikan. Kita cenderung fokus pada apa yang belum kita miliki, membandingkan diri dengan orang lain yang terlihat lebih "sukses" di linemasa media sosial, sehingga melupakan nikmat yang sudah ada di genggaman. Contoh aplikatif syukur adalah ketika kita bangun pagi, bersyukur atas nikmat kesehatan. Bersyukur atas pekerjaan yang halal, meskipun mungkin gaji tidak sebesar yang diimpikan. Bersyukur atas keluarga yang harmonis. Di media sosial, syukur bisa diwujudkan dengan berbagi inspirasi positif, menyebarkan kebaikan, atau sekadar mengucapkan terima kasih atas hal-hal kecil yang terjadi dalam hidup, bukan malah pamer atau mengeluh. Menggunakan platform digital untuk menyebarkan dakwah atau ilmu yang bermanfaat juga merupakan bentuk syukur atas nikmat teknologi dan akses informasi.

Hikmah dari bersyukur sangatlah melimpah. Hati yang bersyukur akan senantiasa merasa cukup dan lapang, terhindar dari penyakit hati seperti iri, dengki, dan tamak. Syukur akan mendatangkan keberkahan dalam setiap aspek kehidupan, membuat rezeki terasa lebih berkah, keluarga lebih harmonis, dan jiwa lebih tenang. Dengan bersyukur, kita akan semakin dekat dengan Allah, karena kita mengakui kebesaran dan kemurahan-Nya. Syukur juga merupakan bentuk ibadah yang akan diganjar pahala berlipat ganda. Rasulullah SAW bersabda: "Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu baik baginya." (HR. Muslim). Hadits ini secara indah menghubungkan sabar dan syukur sebagai dua sisi mata uang kebaikan bagi seorang mukmin.

Poin ketiga: Sabar dan Syukur dalam Menghadapi Ujian Hidup

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Kehidupan dunia ini adalah panggung ujian. Allah SWT telah menetapkan bahwa kita akan diuji dengan berbagai macam cobaan, baik berupa kesenangan maupun kesulitan. Sebagaimana firman-Nya dalam Surat Al-Anbiya ayat 35: "Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan." Ayat ini menegaskan bahwa ujian adalah keniscayaan, dan cara kita menyikapinya adalah penentu derajat kita di sisi Allah. Di sinilah peran sabar dan syukur menjadi sangat vital.

Ketika kita diuji dengan musibah, seperti kehilangan orang yang dicintai, sakit yang berkepanjangan, kerugian dalam usaha, atau kegagalan dalam mencapai cita-cita, maka sabar adalah kunci untuk melewati itu semua. Sabar bukan berarti tidak merasakan sedih, melainkan menahan diri dari keputusasaan, tidak menyalahkan takdir, dan tetap berprasangka baik kepada Allah. Sabar dalam musibah berarti tetap menjalankan kewajiban agama, terus berusaha mencari solusi, dan yakin bahwa di balik setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Di sisi lain, ketika kita diuji dengan nikmat, seperti kesuksesan karier, kekayaan melimpah, popularitas di media sosial, atau kesehatan prima, maka syukur adalah benteng agar kita tidak terjerumus dalam kesombongan dan kelalaian. Syukur dalam nikmat berarti tidak lupa diri, tidak menggunakan nikmat untuk maksiat, dan senantiasa berbagi dengan sesama.

Rasulullah SAW telah memberikan teladan sempurna dalam menyikapi ujian hidup dengan sabar dan syukur. Beliau bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Artinya: "Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Dan yang demikian itu tidak akan terjadi kecuali bagi seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu baik baginya." (HR. Muslim).

Hadits ini adalah inti dari tema khotbah kita hari ini. Ia mengajarkan bahwa bagi seorang mukmin sejati, tidak ada kondisi yang buruk. Baik dalam suka maupun duka, ia selalu berada dalam kebaikan karena ia memiliki dua sayap: sabar dan syukur.

Mari kita ambil contoh aplikatif dalam kehidupan perkotaan. Seseorang mungkin mengalami kegagalan bisnis yang menyebabkan kerugian besar. Jika ia sabar, ia akan mengevaluasi kesalahan, belajar dari pengalaman, dan bangkit kembali. Ia bersyukur atas pelajaran berharga yang didapat. Atau, seorang pekerja yang tiba-tiba di-PHK. Dengan sabar, ia tidak putus asa, terus mencari pekerjaan baru, dan bersyukur atas waktu luang untuk introspeksi. Sebaliknya, ketika seseorang meraih kesuksesan besar, misalnya bisnisnya meroket atau ia menjadi influencer terkenal di media sosial. Jika ia bersyukur, ia akan menggunakan kekayaan atau pengaruhnya untuk kebaikan, tidak sombong, dan tetap rendah hati. Ia sabar menghadapi ujian popularitas dan godaan dunia.

Hikmah dari sikap sabar dan syukur dalam menghadapi ujian hidup adalah peningkatan derajat di sisi Allah. Setiap musibah yang dihadapi dengan sabar akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat. Setiap nikmat yang disyukuri akan mendatangkan keberkahan dan penambahan nikmat. Dengan demikian, ujian hidup, baik berupa kesenangan maupun kesulitan, akan menjadi tangga bagi seorang mukmin untuk semakin dekat dengan Rabb-nya, membersihkan jiwanya, dan mematangkan imannya. Ia akan menemukan hikmah di balik setiap peristiwa, menyadari bahwa Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana dalam setiap ketetapan-Nya.

Poin keempat: Sabar dan Syukur sebagai Kunci Kebahagiaan Sejati

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Pada akhirnya, tujuan setiap manusia adalah meraih kebahagiaan. Namun, seringkali kita salah kaprah dalam mendefinisikan kebahagiaan itu sendiri. Banyak yang mengira kebahagiaan terletak pada banyaknya harta, tingginya jabatan, popularitas, atau kesempurnaan fisik. Padahal, pengalaman hidup sering membuktikan bahwa orang yang memiliki semua itu belum tentu bahagia, bahkan tak jarang justru dilingkupi kegelisahan dan kekosongan jiwa. Sebaliknya, banyak orang dengan kehidupan sederhana justru mampu memancarkan kebahagiaan yang tulus. Mengapa demikian? Karena kebahagiaan sejati tidak terletak pada apa yang kita miliki, melainkan pada bagaimana kita menyikapi apa yang Allah berikan kepada kita, yaitu dengan sabar dan syukur.

Sabar dan syukur adalah dua sayap yang akan mengangkat seorang mukmin menuju kebahagiaan hakiki. Dengan sabar, hati kita akan terhindar dari keluh kesah dan keputusasaan saat menghadapi kesulitan. Kita akan mampu melihat setiap tantangan sebagai bagian dari skenario ilahi yang penuh hikmah. Dengan syukur, hati kita akan senantiasa merasa cukup dan kaya, meskipun secara materi mungkin tidak berlimpah. Kita akan mampu menghargai setiap nikmat kecil yang sering terabaikan, dan merasakan kedamaian karena menyadari kemurahan Allah. Kebahagiaan yang lahir dari sabar dan syukur adalah kebahagiaan yang kokoh, tidak mudah goyah oleh perubahan zaman atau kondisi eksternal. Rasulullah SAW bersabda:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

Artinya: "Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya qana'ah (merasa cukup) dengan apa yang diberikan kepadanya." (HR. Muslim).

Hadits ini secara jelas menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati terletak pada keislaman, rezeki yang cukup, dan sifat qana'ah, yang merupakan buah dari sabar dan syukur.

Dalam konteks kehidupan modern, banyak orang mengejar kebahagiaan semu melalui validasi di media sosial, membeli barang-barang mewah, atau mengejar kesenangan sesaat. Mereka mungkin terlihat bahagia di permukaan, namun di balik itu seringkali ada kegelisahan dan ketidakpuasan. Contohnya, seseorang yang terus-menerus membandingkan hidupnya dengan "highlight reel" orang lain di Instagram, sehingga merasa kurang dan tidak bahagia. Ia kurang sabar dengan proses hidupnya sendiri dan kurang bersyukur atas apa yang sudah ia miliki. Sebaliknya, seorang mukmin yang mengamalkan sabar dan syukur akan menemukan kebahagiaan dalam kesederhanaan, dalam ibadah, dalam kebersamaan keluarga, dan dalam membantu sesama. Ia sabar dalam menjalani proses, dan bersyukur atas setiap pencapaian, sekecil apa pun itu. Ia tidak akan mudah terpengaruh oleh standar kebahagiaan yang diciptakan oleh dunia maya.

Hikmah dari menjadikan sabar dan syukur sebagai landasan hidup adalah tercapainya ketenangan hati dan jiwa yang hakiki. Ini adalah kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan uang, melainkan ditemukan dalam kedalaman hati yang terhubung dengan Allah. Dengan sabar dan syukur, seorang mukmin akan meraih ridha Allah, yang merupakan puncak dari segala kebahagiaan. Ia akan menjalani hidup dengan optimisme, menghadapi tantangan dengan ketabahan, dan menikmati setiap momen dengan penuh rasa syukur. Dua sayap ini akan membawa kita terbang tinggi melampaui hiruk pikuk dunia, menuju kebahagiaan abadi di sisi Allah SWT.

3. Penutup

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Demikianlah khotbah singkat pada siang yang penuh berkah ini. Marilah kita renungkan bersama, bahwa sabar dan syukur bukanlah sekadar teori, melainkan dua amalan hati yang harus senantiasa kita pupuk dan praktikkan dalam setiap sendi kehidupan. Keduanya adalah dua sayap yang akan mengantarkan kita terbang tinggi menuju kebahagiaan sejati, baik di dunia maupun di akhirat. Dengan sabar, kita akan kuat menghadapi badai kehidupan. Dengan syukur, kita akan merasakan nikmat yang tak terhingga.

Semoga Allah SWT senantiasa menganugerahkan kepada kita hati yang sabar dalam menghadapi ujian dan lisan yang senantiasa bersyukur atas segala nikmat-Nya. Semoga kita semua termasuk golongan hamba-Nya yang beruntung, yang mampu mengamalkan sabar dan syukur dalam setiap keadaan.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

KHOTBAH KEDUA

1. Pembukaan

Alhamdulillah. Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam. Kami bersaksi tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan kami bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Ya Allah, curahkanlah shalawat dan salam atas junjungan kami Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, juga atas keluarga dan para sahabat beliau sekalian.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sebenar-benar takwa, yaitu dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, baik dalam keadaan terang maupun tersembunyi. Karena sesungguhnya, takwa adalah sebaik-baik bekal menuju kebahagiaan abadi di sisi Allah.

2. Isi Singkat

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Telah kita dengar bersama pada khotbah pertama tadi, betapa sabar dan syukur adalah dua sayap yang mengantarkan seorang mukmin menuju kebahagiaan sejati dan ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sabar mengajarkan kita keteguhan di kala ujian melanda, menjadikan hati tak mudah goyah oleh badai kehidupan. Syukur membimbing kita untuk senantiasa melihat kebaikan di setiap keadaan, menghargai setiap nikmat, sekecil apapun itu, sehingga jiwa menjadi lapang dan damai.

Mari kita terus pupuk kedua sifat mulia ini dalam diri kita. Jadikan sabar sebagai penolong di setiap kesulitan, dan syukur sebagai pengikat nikmat yang tak terhingga. Dengan demikian, insya Allah, kita akan meraih kebahagiaan hakiki, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Dan janganlah kita lupa, untuk senantiasa memperbanyak shalawat dan salam kepada junjungan kita, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, keluarga, dan para sahabatnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab: 56)

3. Doa Penutup

Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad.

Allahummaghfir lil muslimina wal muslimat, wal mu'minina wal mu'minat, al-ahya'i minhum wal amwat. Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.

Rabbana la tuzigh qulubana ba'da idh hadaitana wahab lana min ladunka rahmah, innaka antal wahhab.

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)." (QS. Ali Imran: 8)

Ya Allah, jadikanlah negeri kami, Indonesia, negeri yang aman, makmur, adil, dan sentosa di bawah lindungan-Mu. Jauhkanlah kami dari segala fitnah, bencana, dan marabahaya. Satukanlah hati pemimpin dan rakyatnya dalam kebaikan dan ketaatan kepada-Mu.

Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina 'adzaban nar.

"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Al-Baqarah: 201)

Subhana rabbika rabbil 'izzati 'amma yasifun, wa salamun 'alal mursalin, walhamdulillahi rabbil 'alamin.

Disusun otomatis dengan bantuan AI. Mohon ditelaah dan disesuaikan sebelum dibacakan.