Khotbah Jumat · Akhlak & Muamalah · 15 September 2026

Menghindari Ghibah dan Fitnah di Era Digital

KHOTBAH PERTAMA

1. Pembukaan

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat, jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT.

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah SWT, Rabb semesta alam, yang telah melimpahkan kepada kita berbagai nikmat, terutama nikmat iman dan Islam, serta nikmat kesehatan dan kesempatan untuk berkumpul di rumah-Nya yang mulia ini, menunaikan salah satu kewajiban kita sebagai seorang Muslim. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman. Beliau adalah teladan terbaik dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam menjaga lisan dan kehormatan sesama.

Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, la nabiyya ba’dah. Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, tiada nabi setelahnya.

Hadirin jamaah Jumat yang berbahagia,

Marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa, yaitu dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, baik dalam keadaan terang-terangan maupun tersembunyi, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Karena sesungguhnya, takwa adalah bekal terbaik yang akan menyertai kita di dunia dan di akhirat kelak. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Ali 'Imran ayat 102:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim."

Wasiat takwa ini menjadi pengingat bagi kita semua, terutama di era digital yang serba cepat ini, di mana informasi mengalir deras tanpa henti. Kemudahan akses informasi ini, di satu sisi membawa banyak manfaat, namun di sisi lain juga menyimpan potensi bahaya yang besar, terutama terkait dengan masalah ghibah dan fitnah. Oleh karena itu, pada kesempatan khutbah Jumat yang mulia ini, khatib akan menyampaikan nasihat tentang pentingnya "Menghindari Ghibah dan Fitnah di Era Digital". Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita semua.

2. Isi Materi

Memahami Hakikat Ghibah dan Fitnah dalam Islam

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat, jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.

Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, khususnya di era digital saat ini, istilah ghibah dan fitnah menjadi semakin akrab di telinga kita. Namun, apakah kita benar-benar memahami hakikat dan bahaya keduanya menurut pandangan Islam? Ghibah, secara bahasa berarti menggunjing atau membicarakan keburukan orang lain di belakangnya. Dalam terminologi syariat, ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu, padahal hal itu memang ada padanya. Sedangkan fitnah, lebih parah lagi, adalah menyebarkan berita bohong atau menuduh seseorang dengan sesuatu yang tidak ada padanya, dengan tujuan merusak nama baik atau menimbulkan kekacauan.

Rasulullah SAW pernah menjelaskan perbedaan keduanya dengan sangat gamblang dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Beliau bersabda:

"Tahukah kalian apa itu ghibah?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Beliau bersabda, "Engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu." Ditanyakan, "Bagaimana jika yang saya katakan itu memang ada pada saudaraku?" Beliau menjawab, "Jika yang engkau katakan itu memang ada padanya, maka engkau telah mengghibahnya. Dan jika tidak ada padanya, maka engkau telah memfitnahnya." (HR. Muslim).

Hadits ini menegaskan bahwa ghibah adalah membicarakan aib orang lain yang memang benar adanya, namun ia tidak suka jika aibnya dibicarakan. Sementara fitnah adalah menyebarkan kebohongan atau tuduhan palsu. Keduanya sama-sama dosa besar, namun fitnah memiliki tingkat dosa yang lebih berat karena mengandung unsur kebohongan dan penzaliman yang lebih parah.

Allah SWT sendiri telah memberikan perumpamaan yang sangat menjijikkan tentang ghibah dalam Al-Qur'an Surah Al-Hujurat ayat 12:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang."

Ayat ini menggambarkan betapa keji dan menjijikkannya perbuatan ghibah, diibaratkan seperti memakan daging saudara sendiri yang sudah mati. Perumpamaan ini bukan tanpa makna, melainkan untuk menanamkan rasa jijik dan takut dalam diri kita terhadap perbuatan tersebut.

Contoh aplikatifnya dalam kehidupan sehari-hari sangat banyak, terutama di era digital ini. Ketika kita tergabung dalam grup WhatsApp dan ada seseorang yang mulai menceritakan keburukan atau aib orang lain, meskipun itu benar adanya, maka saat itu kita sedang terlibat dalam ghibah. Atau ketika kita melihat postingan di media sosial yang menjelek-jelekkan seseorang, dan kita ikut berkomentar negatif atau bahkan membagikannya, maka kita telah menjadi bagian dari pelaku ghibah. Lebih parah lagi, jika kita menyebarkan berita bohong tentang seseorang, menuduhnya melakukan sesuatu yang tidak ia lakukan, atau menyebarkan hoaks yang merusak reputasinya, maka kita telah melakukan fitnah.

Hikmah dari memahami hakikat ghibah dan fitnah ini adalah agar kita senantiasa menjaga kehormatan diri dan orang lain. Islam sangat menjunjung tinggi kehormatan individu. Dengan menjauhi ghibah dan fitnah, kita turut menciptakan masyarakat yang damai, harmonis, dan saling menghargai. Kita juga menjauhkan diri dari dosa-dosa besar yang dapat merusak amal kebaikan kita dan membawa kita pada azab Allah SWT. Ingatlah, setiap perkataan dan perbuatan kita akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Bahaya Ghibah dan Fitnah di Era Digital

Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah.

Jika ghibah dan fitnah di masa lalu hanya terbatas pada lingkaran pergaulan atau komunitas tertentu, maka di era digital ini, bahayanya telah meningkat berkali-kali lipat. Media sosial, aplikasi pesan instan, dan berbagai platform digital lainnya telah menjadi sarana yang sangat efektif untuk penyebaran informasi, termasuk ghibah dan fitnah, dengan kecepatan dan jangkauan yang luar biasa. Sebuah informasi, baik benar maupun salah, dapat menyebar ke seluruh dunia hanya dalam hitungan detik, menjangkau jutaan orang tanpa filter.

Dampak dari penyebaran ghibah dan fitnah di era digital ini sangat mengerikan. Pertama, dampak psikologis bagi korban. Seseorang yang menjadi korban ghibah atau fitnah di dunia maya bisa mengalami tekanan mental yang berat, depresi, kecemasan, bahkan hingga bunuh diri. Reputasi yang dibangun bertahun-tahun bisa hancur dalam sekejap hanya karena satu postingan atau komentar negatif yang viral. Kedua, kerusakan reputasi dan karir. Fitnah yang menyebar luas dapat menghancurkan karir seseorang, membuatnya kehilangan pekerjaan, atau bahkan dikucilkan dari masyarakat. Jejak digital yang abadi membuat informasi tersebut sulit dihapus dan terus menghantui korban. Ketiga, perpecahan sosial dan disintegrasi umat. Fitnah seringkali digunakan sebagai alat untuk memecah belah masyarakat, mengadu domba antar kelompok, atau menyulut konflik berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Kita telah menyaksikan bagaimana hoaks dan fitnah dapat memicu kerusuhan dan ketegangan sosial yang serius.

Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nur ayat 19, mengingatkan kita akan bahaya menyebarkan berita keji:

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang sangat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."

Ayat ini secara jelas mengancam dengan azab yang pedih bagi mereka yang senang menyebarkan kekejian, termasuk di dalamnya adalah ghibah dan fitnah. Ancaman ini berlaku di dunia maupun di akhirat, menunjukkan betapa seriusnya dosa ini di mata Allah.

Contoh nyata di era digital adalah kasus cyberbullying, di mana seseorang menjadi target serangan verbal atau penyebaran informasi negatif secara online. Atau ketika sebuah berita bohong tentang tokoh publik atau bahkan orang biasa menjadi viral, menyebabkan kerugian besar bagi yang bersangkutan. Seringkali, kita tanpa sadar ikut menyebarkan hoaks atau informasi yang belum terverifikasi hanya karena terprovokasi judul atau gambar yang menarik, padahal isinya adalah fitnah yang merusak. Ini adalah dosa jariyah, dosa yang terus mengalir meskipun kita sudah meninggal, selama informasi tersebut masih terus disebarkan dan merugikan orang lain.

Hikmah dari memahami bahaya ghibah dan fitnah di era digital ini adalah untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya tabayyun (klarifikasi) dan verifikasi informasi sebelum menyebarkannya. Kita harus menyadari bahwa setiap unggahan, setiap komentar, setiap "like" atau "share" yang kita lakukan di media sosial memiliki konsekuensi dan pertanggungjawaban di hadapan Allah. Ini juga mendorong kita untuk menjadi pengguna media sosial yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab, serta menggunakan platform digital untuk menyebarkan kebaikan, bukan kerusakan.

Prinsip Tabayyun dan Verifikasi Informasi

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat, jamaah Jumat yang berbahagia.

Mengingat betapa dahsyatnya dampak ghibah dan fitnah di era digital, Islam telah mengajarkan sebuah prinsip fundamental yang sangat relevan, yaitu tabayyun. Tabayyun berarti meneliti, memeriksa, atau mengklarifikasi kebenaran suatu berita sebelum mengambil tindakan atau menyebarkannya. Prinsip ini menjadi benteng pertahanan utama kita dari terjebak dalam lingkaran setan ghibah dan fitnah.

Allah SWT secara tegas memerintahkan kita untuk bertabayyun dalam Al-Qur'an Surah Al-Hujurat ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Jika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan) yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu."

Ayat ini tidak hanya berlaku jika berita dibawa oleh orang fasik, tetapi juga menjadi prinsip umum untuk setiap berita yang kita terima, terutama di era digital ini di mana berita bisa datang dari mana saja dan seringkali tidak jelas sumbernya. Perintah untuk meneliti kebenaran berita ini adalah untuk mencegah kita dari mencelakakan orang lain karena ketidaktahuan atau kecerobohan, yang pada akhirnya akan menimbulkan penyesalan.

Bagaimana cara kita menerapkan prinsip tabayyun ini dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di dunia maya? Pertama, jangan mudah percaya pada berita yang sensasional atau provokatif. Berita semacam itu seringkali dirancang untuk menarik perhatian dan memicu emosi, tanpa mengedepankan fakta. Kedua, periksa sumber berita. Apakah sumbernya kredibel? Apakah itu media massa yang terverifikasi atau hanya akun anonim di media sosial? Ketiga, bandingkan dengan sumber lain. Jika ada berita penting, cari tahu apakah media lain yang terpercaya juga memberitakannya. Keempat, jangan langsung meneruskan atau membagikan. Tahan jari kita untuk tidak langsung menekan tombol "share" sebelum yakin akan kebenarannya. Kelima, bertanya langsung kepada pihak yang bersangkutan jika memungkinkan, atau kepada orang yang lebih tahu dan terpercaya.

Contoh aplikatifnya, ketika kita menerima pesan berantai di grup WhatsApp yang berisi informasi mengejutkan atau tuduhan terhadap seseorang atau kelompok, jangan langsung percaya dan jangan langsung meneruskan. Luangkan waktu sejenak untuk mencari tahu kebenarannya. Gunakan mesin pencari, kunjungi situs-situs cek fakta, atau tanyakan kepada teman yang lebih paham. Jika informasi tersebut ternyata hoaks, maka tugas kita adalah tidak menyebarkannya dan bahkan mengklarifikasi kepada pengirimnya jika memungkinkan, dengan cara yang santun. Demikian pula, jika kita mendengar atau membaca tentang aib seseorang, tahan diri untuk tidak ikut membicarakannya atau menyebarkannya. Ingatlah, setiap manusia memiliki aib, dan Allah menutupi aib kita, maka kita pun harus menutupi aib saudara kita.

Hikmah dari menerapkan prinsip tabayyun ini sangat besar. Kita akan terhindar dari dosa menyebarkan kebohongan dan fitnah, serta dosa ghibah. Kita juga turut melindungi kehormatan orang lain dan mencegah terjadinya perpecahan di masyarakat. Dengan bertabayyun, kita membangun budaya kritis dan cerdas dalam bermedia sosial, tidak mudah terprovokasi, dan menjadi agen penyebar kebenaran, bukan penyebar hoaks. Ini adalah bentuk ketaatan kita kepada Allah dan Rasul-Nya, serta wujud kepedulian kita terhadap sesama Muslim.

Menjaga Lisan dan Jari Jemari sebagai Bentuk Ketaatan

Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT.

Pada akhirnya, inti dari menghindari ghibah dan fitnah, baik di dunia nyata maupun di era digital, adalah dengan menjaga lisan dan jari jemari kita. Lisan dan jari adalah dua anggota tubuh yang sangat kecil, namun memiliki potensi dampak yang sangat besar, baik untuk kebaikan maupun keburukan. Dalam Islam, lisan dan jari jemari adalah amanah dari Allah SWT, dan setiap perkataan serta ketikan kita akan dimintai pertanggungjawaban.

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:

"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini adalah kaidah emas dalam berkomunikasi. Jika perkataan kita tidak mengandung kebaikan, tidak bermanfaat, atau bahkan berpotensi menimbulkan dosa seperti ghibah dan fitnah, maka lebih baik kita diam. Di era digital ini, "diam" bisa berarti tidak mengetik, tidak berkomentar, tidak membagikan, atau tidak menyebarkan. Ini adalah bentuk pengendalian diri yang sangat penting.

Allah SWT juga mengingatkan kita dalam Surah Qaf ayat 18:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Artinya: "Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)."

Ayat ini menegaskan bahwa setiap perkataan kita, bahkan yang kita anggap sepele sekalipun, tidak luput dari catatan malaikat. Di era digital, ini juga berlaku untuk setiap ketikan, setiap postingan, setiap komentar yang kita tulis. Semua akan menjadi saksi di hari perhitungan kelak.

Contoh aplikatifnya adalah ketika kita melihat postingan di media sosial yang memancing emosi, atau yang berisi informasi negatif tentang seseorang. Daripada ikut berkomentar negatif, memaki, atau menyebarkan kebencian, lebih baik kita memilih untuk diam. Atau jika ingin berkomentar, berikanlah komentar yang positif, menenangkan, atau mendoakan kebaikan. Gunakan media sosial untuk berbagi ilmu yang bermanfaat, inspirasi kebaikan, dakwah, atau sekadar menyambung silaturahmi dengan cara yang positif. Jadikan jari jemari kita sebagai alat untuk menyebarkan kebaikan, bukan keburukan. Ketika kita merasa ingin mengeluh atau membicarakan aib orang lain, ingatlah hadits Rasulullah SAW: "Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu perkataan yang tidak ia anggap penting, padahal dengan perkataan itu ia terjerumus ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat." (HR. Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan betapa berbahayanya lisan yang tidak terjaga.

Hikmah dari menjaga lisan dan jari jemari ini adalah kita akan mendapatkan pahala dari setiap kebaikan yang kita sebarkan dan terhindar dari dosa-dosa lisan yang dapat merusak amal kita. Kita akan menjadi pribadi yang lebih positif, konstruktif, dan membawa manfaat bagi lingkungan sekitar. Dengan menjaga lisan dan jari, kita menunjukkan ketaatan kita kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, serta meraih ridha-Nya. Ini adalah investasi terbaik untuk kehidupan dunia dan akhirat kita. Mari kita jadikan setiap interaksi kita di dunia maya sebagai ladang amal kebaikan, bukan ladang dosa.

3. Penutup

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat, jamaah Jumat yang dirahmati Allah.

Demikianlah khutbah singkat mengenai pentingnya menghindari ghibah dan fitnah di era digital ini. Kita telah memahami bahwa ghibah adalah membicarakan aib saudara kita yang memang ada padanya, sedangkan fitnah adalah menyebarkan kebohongan atau tuduhan palsu. Keduanya adalah dosa besar yang memiliki dampak merusak, terutama di era digital ini di mana informasi dapat menyebar dengan sangat cepat dan luas.

Untuk melindungi diri dari bahaya ini, kita wajib menerapkan prinsip tabayyun, yaitu meneliti dan memverifikasi setiap informasi yang kita terima sebelum menyebarkannya. Dan yang terpenting, marilah kita senantiasa menjaga lisan dan jari jemari kita, karena setiap perkataan dan ketikan kita akan dicatat dan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Jadikanlah setiap interaksi kita di dunia maya sebagai sarana untuk menyebarkan kebaikan, bukan kerusakan.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk menjadi hamba-Nya yang bertakwa, yang mampu menjaga lisan dan jari jemari dari segala bentuk ghibah dan fitnah, serta menjadikan kita sebagai agen-agen kebaikan di muka bumi ini. Amin ya Rabbal 'alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHOTBAH KEDUA

1. Pembukaan

Alhamdulillahilladzi hadana lihadza wama kunna linahtadiya lawla an hadanallah. Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh, la nabiyya ba'dah.

Allahumma shalli wa sallim wa barik ala sayyidina Muhammad, wa ala alihi wa shahbihi ajma'in.

Amma ba'du. Fa ya ayyuhal hadirun, ittaqullaha haqqa tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun.

2. Isi Singkat

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebagaimana telah kita dengar bersama pada khotbah pertama, betapa besar bahaya ghibah dan fitnah, terlebih di era digital ini. Media sosial yang seharusnya menjadi sarana kebaikan, seringkali disalahgunakan untuk menyebarkan berita bohong dan menggunjing aib sesama.

Ingatlah, setiap perkataan dan tulisan kita akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, mari kita jaga lisan dan jari jemari kita, senantiasa menerapkan prinsip tabayyun atau klarifikasi sebelum menyebarkan informasi. Jangan sampai kita menjadi bagian dari penyebar kerusakan. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk menjadi hamba-Nya yang berhati bersih, berakhlak mulia, dan senantiasa menjaga persatuan umat.

Sebagai wujud cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW, marilah kita perbanyak shalawat dan salam kepada beliau, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur'an:

"Innallaha wa malaikatahu yushalluna alan-nabi, ya ayyuhalladzina amanu shallu alaihi wa sallimu taslima." (QS. Al-Ahzab [33]: 56)

3. Doa Penutup

Allahumma shalli ala Muhammad wa ala ali Muhammad.

Allahummaghfir lil muslimina wal muslimat, wal mu'minina wal mu'minat, al-ahya'i minhum wal amwat. Innaka sami'un qaribun mujibud da'wat, ya qadhiyal hajat.

Allahumma a'izzal Islam wal muslimin, wanshur ikhwananal muslimina fi kulli makan. Allahumma dammir a'da'ad din, wahlikil kafarata wal musyrikin.

Allahummaftah lana abwabal khair, wa abwabal barakah, wa abwabal ni'mah, wa abwabal quwwah, wa abwabal shihhah, wa abwabal salamah, wa abwabal jannah.

Ya Allah, jadikanlah negeri kami, Indonesia, negeri yang aman, damai, makmur, dan sejahtera di bawah lindungan-Mu. Jauhkanlah dari segala bencana, fitnah, dan marabahaya. Bimbinglah para pemimpin kami agar senantiasa berlaku adil dan amanah.

Rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina adzabannar. (QS. Al-Baqarah [2]: 201)

Subhana rabbika rabbil izzati amma yasifun, wa salamun alal mursalin, walhamdulillahi rabbil alamin.

Disusun otomatis dengan bantuan AI. Mohon ditelaah dan disesuaikan sebelum dibacakan.