Khotbah Jumat · Akhlak & Muamalah · 15 September 2026

Menjaga Lisan: Adab Bermedia Sosial dalam Islam

KHOTBAH PERTAMA

1. Pembukaan

Innalhamdalillah, nahmaduhu wanasta’inuhu wanastaghfiruh, wanauudzubillahi min syuruuri anfusinaa wamin sayyiati a’maalinaa. Mayyahdihillahu falaa mudhillalah, wamayyudhlilhu falaa haadiyalah.

Asyhadu an laa ilaaha illallah wahdahu laa syarikalah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu warasuuluh, laa nabiyya ba’dah.

Allahumma shalli wa sallim ‘ala sayyidina Muhammadin, wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala limpahan nikmat dan karunia-Nya yang tak terhingga. Nikmat iman, nikmat Islam, nikmat sehat, dan nikmat kesempatan untuk kembali berkumpul di rumah-Nya yang mulia ini dalam rangka menunaikan salah satu kewajiban kita sebagai seorang Muslim, yaitu shalat Jumat. Semoga setiap langkah kita menuju masjid ini dicatat sebagai amal kebaikan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti jejak langkah beliau hingga akhir zaman. Semoga kita semua termasuk golongan yang mendapatkan syafaat beliau di hari kiamat kelak.

Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Sebagai seorang hamba yang beriman, tiada wasiat yang lebih utama dan agung melainkan wasiat takwa. Oleh karena itu, khatib menyeru kepada diri khatib pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa dalam arti sebenar-benarnya takwa, yaitu dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, baik dalam keadaan terang-terangan maupun tersembunyi, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Karena sesungguhnya, sebaik-baik bekal menuju akhirat adalah takwa. Dengan takwa, hati menjadi tenang, hidup menjadi terarah, dan segala urusan akan dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pada kesempatan khotbah Jumat yang penuh berkah ini, kita akan merenungkan sebuah tema yang sangat relevan dengan kehidupan kita di era modern ini, yaitu "Menjaga Lisan: Adab Bermedia Sosial dalam Islam". Di zaman yang serba digital ini, lisan kita tidak hanya terbatas pada ucapan yang keluar dari mulut, namun juga tulisan, komentar, dan unggahan kita di berbagai platform media sosial. Mari kita telaah bagaimana Islam membimbing kita dalam menggunakan anugerah lisan ini agar menjadi sumber kebaikan, bukan justru sebaliknya.

2. Isi Materi

Pentingnya Menjaga Lisan di Era Digital

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menganugerahkan kepada kita lisan sebagai salah satu nikmat terbesar. Dengan lisan, kita dapat berkomunikasi, berdakwah, membaca Al-Qur'an, berzikir, dan menyebarkan kebaikan. Namun, di sisi lain, lisan juga bisa menjadi sumber malapetaka jika tidak digunakan dengan bijak. Di era digital saat ini, konsep lisan telah meluas. Apa yang kita ketik, kita unggah, kita bagikan, dan kita komentari di media sosial, semuanya adalah representasi lisan kita. Jangkauan lisan digital ini jauh lebih luas dan dampaknya bisa lebih masif dibandingkan lisan konvensional. Satu status atau komentar yang tidak bijak bisa tersebar dalam hitungan detik ke ribuan, bahkan jutaan orang, dan jejak digitalnya akan sulit dihapus.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Ahzab ayat 70:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar." (QS. Al-Ahzab: 70)

Ayat ini secara jelas memerintahkan kita untuk bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar, atau dalam tafsir lain diartikan sebagai perkataan yang lurus, tepat, dan tidak mengandung kebatilan. Perintah ini berlaku universal, termasuk dalam interaksi kita di media sosial. Setiap huruf yang kita ketik, setiap gambar yang kita unggah, setiap video yang kita bagikan, haruslah mencerminkan kebenaran dan ketakwaan. Jangan sampai lisan digital kita menjadi sarana untuk menyebarkan kebohongan, fitnah, ghibah, atau ujaran kebencian yang dapat merusak persaudaraan dan menimbulkan dosa.

Contoh aplikatifnya dalam kehidupan sehari-hari sangat banyak. Misalnya, ketika kita melihat sebuah berita atau informasi yang viral di media sosial. Tanpa berpikir panjang, kita langsung membagikannya atau berkomentar dengan emosi, padahal kebenaran informasi tersebut belum terverifikasi. Atau, ketika kita merasa tidak suka dengan seseorang, kita melampiaskan kekesalan kita dengan menulis status atau komentar yang menyudutkan, mencela, atau bahkan memfitnah orang tersebut di platform publik. Tindakan-tindakan semacam ini, meskipun hanya berupa tulisan, memiliki kekuatan yang sama bahkan lebih besar dalam menyakiti hati orang lain dan merusak reputasi, serta dapat menimbulkan dosa jariyah yang terus mengalir selama postingan itu masih ada dan dibaca orang lain.

Hikmah dari menjaga lisan di era digital ini sangatlah besar. Pertama, kita akan menjaga kehormatan diri kita sendiri dan orang lain. Dengan berkata dan bertindak bijak di media sosial, kita menunjukkan kematangan iman dan akhlak kita. Kedua, kita turut berkontribusi dalam menciptakan lingkungan digital yang positif, damai, dan penuh manfaat. Bayangkan jika setiap pengguna media sosial berkomitmen untuk hanya menyebarkan kebaikan dan kebenaran, tentu dunia maya akan menjadi tempat yang jauh lebih baik. Ketiga, dan yang terpenting, kita akan terhindar dari dosa-dosa lisan yang dapat memberatkan timbangan amal kita di akhirat kelak. Ingatlah, setiap perkataan dan perbuatan kita akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tabayyun dan Verifikasi Informasi

Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, kemampuan untuk memilah dan memilih informasi yang benar menjadi sangat krusial. Kita seringkali dihadapkan pada berbagai macam berita, baik yang valid maupun hoaks, baik yang bermanfaat maupun yang menyesatkan. Tanpa sikap hati-hati dan kritis, kita bisa dengan mudah terjerumus menjadi penyebar berita bohong atau fitnah, yang dosanya sangat besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam Islam, ada sebuah prinsip agung yang disebut "tabayyun", yaitu meneliti dan mencari kejelasan tentang suatu berita atau informasi sebelum mengambil tindakan atau menyebarkannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Hujurat ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu." (QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini adalah pedoman emas bagi kita dalam berinteraksi dengan informasi, terutama di media sosial. Kata "fasik" dalam ayat ini bisa diartikan sebagai orang yang tidak jujur, atau bahkan berita yang belum jelas kebenarannya. Perintah untuk "tabayyun" atau meneliti kebenarannya adalah sebuah keharusan. Jangan sampai kita menjadi bagian dari rantai penyebar kebohongan yang dapat menimbulkan kerugian bagi orang lain, baik secara materi maupun non-materi, dan pada akhirnya kita sendiri yang akan menyesalinya di kemudian hari. Di era digital ini, berita bohong atau hoaks seringkali dikemas sedemikian rupa sehingga tampak meyakinkan, bahkan terkadang mengatasnamakan agama atau tokoh tertentu. Oleh karena itu, sikap kritis dan tabayyun menjadi benteng pertahanan kita.

Contoh aplikatifnya adalah ketika kita menerima pesan berantai di grup WhatsApp yang berisi informasi tentang suatu kejadian, klaim kesehatan, atau bahkan ajaran agama yang aneh. Alih-alih langsung meneruskan pesan tersebut ke grup lain atau ke kontak pribadi, seorang Muslim yang bijak akan berhenti sejenak. Ia akan mencari tahu sumber berita tersebut, membandingkannya dengan sumber-sumber terpercaya, atau bahkan bertanya kepada ahli di bidangnya. Jika informasi tersebut ternyata hoaks atau tidak benar, ia tidak hanya tidak menyebarkannya, tetapi juga bisa mengedukasi orang lain untuk tidak percaya pada informasi tersebut. Begitu pula ketika melihat postingan yang provokatif atau mengandung ujaran kebencian, seorang Muslim tidak akan langsung ikut-ikutan berkomentar atau membagikannya, melainkan akan menahan diri dan mencari kejelasan.

Hikmah dari menerapkan prinsip tabayyun ini sangatlah besar. Pertama, kita akan terhindar dari dosa menyebarkan kebohongan dan fitnah, yang merupakan dosa besar dalam Islam. Kedua, kita turut menjaga persatuan dan kerukunan umat, karena banyak konflik dan perpecahan yang berawal dari informasi yang tidak benar. Ketiga, kita akan menjadi pribadi yang lebih cerdas dan bijak dalam mengonsumsi informasi, tidak mudah terprovokasi, dan mampu membedakan antara yang hak dan yang batil. Keempat, kita akan mendapatkan pahala karena telah berusaha menjaga diri dan orang lain dari dampak buruk informasi yang menyesatkan.

Berkata Baik atau Diam: Etika Berkomentar dan Berinteraksi

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Lisan adalah cerminan hati. Apa yang keluar dari lisan, baik ucapan maupun tulisan di media sosial, menunjukkan isi hati dan kualitas iman seseorang. Islam mengajarkan kita untuk senantiasa berkata baik, atau jika tidak mampu, maka lebih baik diam. Prinsip ini sangat relevan dan harus kita terapkan secara ketat dalam interaksi kita di media sosial. Di sana, kita seringkali melihat berbagai macam komentar, dari yang membangun hingga yang merusak, dari yang santun hingga yang kasar. Sebagai seorang Muslim, kita harus memilih untuk menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini adalah pondasi utama dalam etika berkomunikasi seorang Muslim. Iman kepada Allah dan hari akhir seharusnya mendorong kita untuk senantiasa menjaga lisan kita. Setiap kata yang kita ucapkan atau kita tulis akan dicatat oleh malaikat Raqib dan Atid, dan akan dimintai pertanggungjawaban di hari kiamat. Oleh karena itu, sebelum mengetik sebuah komentar atau status di media sosial, tanyakan pada diri kita: Apakah ini perkataan yang baik? Apakah ini bermanfaat? Apakah ini tidak menyakiti orang lain? Jika jawabannya tidak, maka lebih baik kita menahan jari kita dan memilih untuk diam. Hindarilah ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), mencela, menghina, atau menyebarkan aib orang lain, karena semua itu adalah dosa besar yang dapat merusak pahala amal kita.

Contoh aplikatifnya, ketika kita melihat postingan seseorang yang mungkin tidak sependapat dengan kita, atau bahkan kita anggap keliru. Daripada langsung menyerang dengan kata-kata kasar, menghina, atau merendahkan, seorang Muslim yang berakhlak akan memilih untuk memberikan nasihat dengan cara yang santun dan bijaksana, atau jika tidak memungkinkan, ia akan memilih untuk tidak berkomentar sama sekali. Begitu pula ketika ada teman yang mengunggah foto atau status yang mungkin kurang pantas, daripada langsung mencela di kolom komentar publik, lebih baik menasihati secara pribadi melalui pesan langsung. Menghindari perdebatan yang tidak perlu, tidak ikut-ikutan dalam "war" komentar, dan tidak memprovokasi adalah bentuk nyata dari mengamalkan hadits ini di dunia maya.

Hikmah dari berkata baik atau diam di media sosial sangatlah besar. Pertama, kita akan menjaga hati kita dari penyakit-penyakit seperti dengki, iri, dan ujaran kebencian. Dengan tidak ikut-ikutan dalam hal-hal negatif, hati kita akan lebih bersih dan tenang. Kedua, kita akan mendapatkan pahala dari setiap perkataan baik yang kita ucapkan atau tulis, karena itu termasuk sedekah lisan. Ketiga, kita akan menciptakan lingkungan digital yang lebih positif dan kondusif untuk berinteraksi, di mana orang merasa aman dan nyaman untuk berbagi tanpa takut dihakimi atau dicela. Keempat, kita akan menjadi teladan bagi orang lain, menunjukkan bahwa seorang Muslim adalah pribadi yang berakhlak mulia, bahkan di dunia maya sekalipun.

Menjadi Teladan Positif di Dunia Maya

Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Media sosial, di samping potensi negatifnya, juga memiliki potensi yang luar biasa besar untuk menyebarkan kebaikan, ilmu, dan inspirasi. Sebagai seorang Muslim, kita memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya menjaga diri dari hal-hal negatif, tetapi juga untuk aktif menjadi agen perubahan dan teladan positif di dunia maya. Kita bisa menggunakan platform ini sebagai sarana dakwah, berbagi ilmu yang bermanfaat, menyemangati orang lain, atau bahkan mempromosikan nilai-nilai kebaikan dan kemanusiaan. Jadikan setiap unggahan, setiap komentar, dan setiap interaksi kita sebagai ladang amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur'an Surat An-Nahl ayat 125:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Artinya: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. An-Nahl: 125)

Ayat ini memberikan panduan yang jelas tentang bagaimana kita berdakwah dan berinteraksi dengan orang lain, yaitu dengan hikmah (kebijaksanaan), mau’izhah hasanah (pelajaran yang baik), dan jidal bil lati hiya ahsan (berbantah dengan cara yang lebih baik). Prinsip ini sangat relevan dalam konteks media sosial. Kita bisa berdakwah dengan membagikan ayat-ayat Al-Qur'an, hadits, atau kutipan ulama yang mencerahkan. Kita bisa memberikan pelajaran yang baik melalui tulisan-tulisan inspiratif, video edukatif, atau infografis yang mudah dipahami. Bahkan dalam berdiskusi atau berdebat, kita harus tetap menjaga adab dan etika, tidak merendahkan, tidak mencela, dan tidak memprovokasi. Ingatlah bahwa tujuan kita adalah mengajak kepada kebaikan, bukan untuk mencari kemenangan semata.

Contoh aplikatifnya, seorang Muslim bisa menggunakan akun media sosialnya untuk membagikan konten-konten Islami yang bermanfaat, seperti tips menjalani puasa sunnah, keutamaan shalat Dhuha, atau kisah-kisah teladan para sahabat. Ia juga bisa berbagi ilmu pengetahuan umum yang positif, motivasi untuk berbuat baik, atau bahkan mempromosikan kegiatan sosial dan kemanusiaan. Ketika melihat ada postingan yang berisi informasi keliru tentang Islam, ia bisa memberikan klarifikasi dengan cara yang santun dan disertai dalil yang kuat, bukan dengan emosi atau hujatan. Dengan demikian, akun media sosialnya tidak hanya menjadi tempat bersosialisasi, tetapi juga menjadi sumber keberkahan dan manfaat bagi banyak orang.

Hikmah dari menjadi teladan positif di dunia maya sangatlah besar. Pertama, kita akan mendapatkan pahala jariyah yang terus mengalir selama konten kebaikan yang kita sebarkan masih ada dan dibaca atau dilihat orang lain. Ini adalah investasi akhirat yang tak ternilai harganya. Kedua, kita turut berkontribusi dalam membentuk opini publik yang positif dan mencerahkan, melawan arus informasi negatif yang seringkali mendominasi. Ketiga, kita bisa menjadi inspirasi bagi orang lain untuk ikut serta menyebarkan kebaikan, sehingga tercipta efek domino yang positif di dunia maya. Keempat, kita menunjukkan citra Islam yang rahmatan lil ‘alamin, yaitu agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam, bahkan di platform digital sekalipun. Mari kita manfaatkan media sosial ini untuk meraih ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.

3. Penutup

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Demikianlah khotbah Jumat yang dapat khatib sampaikan pada kesempatan yang mulia ini. Marilah kita renungkan bersama betapa besar amanah lisan yang Allah berikan kepada kita, baik lisan dalam arti ucapan maupun lisan dalam arti tulisan dan interaksi di media sosial. Hendaknya kita senantiasa mengingat bahwa setiap kata yang terucap atau tertulis akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Mari kita jadikan media sosial sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, menyebarkan kebaikan, ilmu, dan inspirasi. Jaga lisan kita dari perkataan yang kotor, fitnah, ghibah, dan ujaran kebencian. Terapkan prinsip tabayyun dalam setiap informasi yang kita terima dan sebarkan. Berkata baiklah, atau diam. Dan jadilah teladan positif yang menebarkan rahmat di dunia maya.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membimbing kita untuk menjadi hamba-hamba-Nya yang bijak dalam menggunakan lisan, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Semoga Allah mengampuni segala dosa dan kesalahan kita, serta menerima amal ibadah kita.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHOTBAH KEDUA

1. Pembukaan

Alhamdulillahilladzi hadana lihadza wama kunna linahtadiya laula an hadanallah. Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh.

Allahumma shalli wa sallim wa barik 'ala sayyidina Muhammadin wa 'ala alihi wa shahbihi ajma'in.

Amma ba'du. Faya ibadallah, ushikum wa iyyaaya bitaqwallahi faqad fazal muttaqun. Bertakwalah kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sebenar-benar takwa, yakni dengan senantiasa menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, baik dalam keadaan terang-terangan maupun tersembunyi.

2. Isi Singkat

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Setelah kita merenungkan bersama pentingnya menjaga lisan di era digital ini, marilah kita teguhkan kembali niat kita untuk menjadikan setiap interaksi di media sosial sebagai ladang amal kebaikan, bukan sebaliknya. Ingatlah, setiap ketikan, setiap unggahan, dan setiap komentar adalah cerminan dari keimanan kita dan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah kelak. Mari kita biasakan tabayyun, memastikan kebenaran informasi sebelum menyebarkannya. Mari kita pilih untuk berkata yang baik atau lebih baik diam, sebagaimana sabda Rasulullah SAW. Jadilah teladan yang menyebarkan kedamaian, persatuan, dan kebaikan, bukan provokasi atau fitnah. Sesungguhnya, kekuatan lisan kita di dunia maya bisa membangun atau menghancurkan. Pilihlah untuk membangun kebaikan dan menyebarkan rahmat.

Oleh karena itu, marilah kita perbanyak shalawat dan salam kepada junjungan kita, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, sebagai wujud cinta dan penghormatan kita kepada beliau, serta harapan akan syafaatnya di hari akhir nanti. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:

"إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا"

(QS. Al-Ahzab: 56)

Maka, bershalawatlah kita kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

3. Doa Penutup

Allahummafirlil muslimina wal muslimat, wal mukminina wal mukminat, al-ahya'i minhum wal amwat. Rabbana la tuzigh qulubana ba'da idz hadaitana wahablana min ladunka rahmatan innaka antal wahhab.

Ya Allah, ya Tuhan kami, jadikanlah negeri kami, Indonesia, negeri yang aman, damai, makmur, dan sentosa di bawah lindungan-Mu. Bimbinglah para pemimpin kami agar senantiasa berlaku adil, amanah, dan membawa kemaslahatan bagi seluruh rakyatnya. Jauhkanlah kami dari segala fitnah, bencana, dan perpecahan.

Rabbana atina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina 'adzaban nar. Subhana rabbika rabbil 'izzati 'amma yasifun, wa salamun 'alal mursalin, walhamdulillahi rabbil 'alamin.

Disusun otomatis dengan bantuan AI. Mohon ditelaah dan disesuaikan sebelum dibacakan.