Khotbah Jumat · Aqidah & Keimanan · 15 September 2026

Iman sebagai Pondasi Kebahagiaan Sejati

KHOTBAH PERTAMA

1. Pembukaan

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Alhamdulillah, alhamdulillahilladzi hadana lihadza wama kunna linahtadiya laula an hadanallah. Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh, la nabiyya ba'dah. Allahumma shalli wa sallim wa barik 'ala sayyidina Muhammadin wa 'ala alihi wa shahbihi ajma'in. Amma ba'du.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Segala puji hanyalah milik Allah SWT, Rabb semesta alam, yang telah menganugerahkan kepada kita nikmat iman dan Islam, nikmat kesehatan dan kesempatan, sehingga kita dapat berkumpul di masjid yang mulia ini untuk menunaikan salah satu kewajiban kita sebagai seorang Muslim, yaitu shalat Jumat. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa, yaitu dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, baik dalam keadaan terang maupun tersembunyi, baik di hadapan manusia maupun saat sendiri. Takwa adalah bekal terbaik kita menuju kebahagiaan sejati, baik di dunia maupun di akhirat.

Pada kesempatan yang mulia ini, izinkanlah khatib menyampaikan khotbah dengan tema yang sangat relevan bagi kita semua, khususnya di tengah hiruk pikuk kehidupan perkotaan dan derasnya arus informasi media sosial, yaitu "Iman sebagai Pondasi Kebahagiaan Sejati". Kita seringkali mencari kebahagiaan di luar diri, pada hal-hal yang bersifat materi dan fana, padahal sesungguhnya kebahagiaan yang hakiki bersemayam dalam hati yang dipenuhi iman. Mari kita renungkan bersama bagaimana iman dapat menjadi penuntun kita menuju kebahagiaan yang abadi.

2. Isi Materi

Poin pertama: Memahami Hakikat Iman dan Kebahagiaan Duniawi

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Di era modern ini, kita seringkali disuguhkan dengan gambaran kebahagiaan yang serba instan dan materialistis. Media sosial menjadi etalase kehidupan yang seolah-olah sempurna, di mana kebahagiaan diukur dari jumlah "likes", "followers", barang-barang mewah, liburan eksotis, atau pencapaian karier yang gemilang. Kita berlomba-lomba mengejar standar kebahagiaan yang dibuat oleh manusia, sehingga tak jarang kita merasa hampa, cemas, dan tidak puas, meskipun secara lahiriah kita memiliki segalanya. Inilah yang perlu kita luruskan, bahwa kebahagiaan sejati tidaklah terletak pada gemerlap dunia yang fana, melainkan pada ketenangan hati yang bersumber dari iman yang kokoh.

Iman, dalam pengertian yang paling mendasar, bukanlah sekadar pengakuan lisan, melainkan keyakinan yang menghujam dalam hati, diikrarkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan amal perbuatan. Iman adalah cahaya yang menerangi jalan hidup, memberikan makna pada setiap langkah, dan menuntun kita pada tujuan yang hakiki. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an, Surah An-Nahl ayat 97:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةً ۚوَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Artinya: "Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sungguh akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sungguh akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS. An-Nahl: 97)

Ayat ini dengan jelas menegaskan bahwa kehidupan yang baik, atau kebahagiaan yang hakiki, diberikan kepada mereka yang beriman dan beramal saleh. Kehidupan yang baik di sini bukan hanya berarti kemewahan materi, melainkan ketenangan jiwa, kepuasan batin, dan keberkahan dalam setiap aspek kehidupan. Betapa banyak orang yang secara materi berkecukupan, namun jiwanya gersang, hatinya gelisah, dan hidupnya terasa hampa. Sebaliknya, tidak sedikit pula orang yang hidup dalam kesederhanaan, namun hatinya lapang, jiwanya tenang, dan senantiasa bersyukur atas karunia Allah.

Contoh aplikatifnya, di tengah masyarakat perkotaan yang serba cepat dan kompetitif, banyak individu yang mengejar kesuksesan karier dan kekayaan materi sebagai tolok ukur kebahagiaan. Mereka bekerja keras siang dan malam, mengorbankan waktu bersama keluarga, bahkan kesehatan, demi mencapai target-target duniawi. Namun, ketika target itu tercapai, seringkali mereka mendapati diri mereka tetap merasa kosong. Mereka mungkin memiliki rumah mewah, mobil mahal, dan liburan ke luar negeri, tetapi hati mereka tidak pernah benar-benar tenang. Hal ini terjadi karena mereka belum menemukan pondasi kebahagiaan yang sejati, yaitu iman. Iman mengajarkan kita bahwa kekayaan sejati adalah kekayaan hati, dan kebahagiaan sejati adalah ketenangan jiwa yang bersumber dari kedekatan dengan Allah.

Hikmah dari poin ini adalah bahwa iman memberikan kita perspektif yang benar tentang nilai-nilai kehidupan. Ia mengajarkan kita untuk tidak terlalu terikat pada dunia yang fana, melainkan mengarahkan pandangan kita pada tujuan akhir yang lebih mulia. Dengan iman, kita memahami bahwa kebahagiaan bukanlah hasil dari apa yang kita miliki, melainkan dari bagaimana kita menyikapi apa yang Allah berikan kepada kita. Iman adalah kompas yang menuntun kita melewati badai kehidupan duniawi menuju pelabuhan kebahagiaan yang hakiki.

Poin kedua: Iman sebagai Sumber Ketenangan Jiwa di Tengah Ujian

Hadirin jamaah Jumat yang berbahagia,

Kehidupan dunia ini tidak pernah lepas dari ujian dan cobaan. Apalagi di zaman sekarang, tekanan hidup terasa semakin berat. Persaingan kerja yang ketat, masalah ekonomi, konflik keluarga, hingga perbandingan sosial di media sosial, semuanya bisa menjadi pemicu stres dan kegelisahan. Banyak orang yang mencari pelarian dari masalah-masalah ini melalui cara-cara yang tidak dibenarkan agama, seperti narkoba, pergaulan bebas, atau bahkan bunuh diri, karena mereka kehilangan pegangan dan harapan. Namun, bagi seorang mukmin, ujian adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup, dan iman adalah sumber kekuatan serta ketenangan jiwa dalam menghadapinya.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an, Surah Ar-Ra'd ayat 28:

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ

Artinya: "Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)

Ayat ini adalah janji Allah yang sangat menenangkan. Ketenangan hati tidak didapatkan dari harta, jabatan, atau pujian manusia, melainkan dari zikrullah, mengingat Allah. Mengingat Allah berarti menyadari kehadiran-Nya dalam setiap detik kehidupan, meyakini kekuasaan-Nya, dan berserah diri sepenuhnya kepada-Nya. Ketika kita menghadapi ujian, iman mengajarkan kita untuk bersabar, bertawakal, dan berhusnuzon kepada Allah, karena kita yakin bahwa setiap ujian pasti ada hikmahnya, dan Allah tidak akan membebani hamba-Nya melampaui batas kemampuannya.

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Artinya: "Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Seluruh urusannya adalah kebaikan baginya. Hal ini tidak berlaku bagi seorang pun kecuali bagi seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu baik baginya." (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan betapa istimewanya orang beriman. Dalam setiap kondisi, baik suka maupun duka, mereka selalu menemukan kebaikan. Ini karena iman memberikan mereka kekuatan untuk bersyukur saat senang dan bersabar saat susah.

Sebagai contoh aplikatif, bayangkan seorang karyawan di kota besar yang tiba-tiba kehilangan pekerjaannya akibat restrukturisasi perusahaan. Bagi orang yang imannya lemah, situasi ini bisa memicu keputusasaan, depresi, bahkan pikiran untuk mengakhiri hidup. Namun, bagi seorang mukmin, meskipun rasa sedih dan khawatir itu wajar, ia akan segera bangkit. Ia akan mengingat bahwa rezeki datangnya dari Allah, dan Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan hamba-Nya yang bertawakal. Ia akan menjadikan musibah ini sebagai introspeksi diri, memperbanyak istighfar, dan berusaha mencari jalan keluar dengan cara yang halal, sambil terus berdoa dan yakin bahwa Allah akan membukakan pintu rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Ketenangan hatinya tidak goyah karena ia memiliki sandaran yang kokoh, yaitu Allah SWT.

Hikmah dari poin ini adalah bahwa iman adalah jangkar yang menenangkan hati di tengah badai kehidupan. Ia memberikan kita kekuatan untuk menghadapi setiap ujian dengan lapang dada, keyakinan bahwa ada hikmah di balik setiap cobaan, dan harapan akan pertolongan Allah. Dengan iman, kita tidak akan mudah putus asa, melainkan akan selalu melihat setiap kesulitan sebagai peluang untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dan meningkatkan kualitas diri.

Poin ketiga: Mengaplikasikan Nilai Iman dalam Interaksi Sosial

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Kebahagiaan sejati tidak hanya dirasakan secara individual, tetapi juga terpancar dalam interaksi kita dengan sesama. Di era digital ini, di mana media sosial menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada berbagai tantangan dalam menjaga etika dan moralitas. Ujaran kebencian, hoaks, ghibah, fitnah, dan perbandingan sosial yang memicu iri hati, seolah menjadi pemandangan lumrah. Namun, iman mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang menebarkan kebaikan, menjaga lisan, dan membangun harmoni dalam masyarakat.

Iman yang kokoh akan mendorong seorang Muslim untuk memiliki akhlak mulia, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Artinya: "Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya." (HR. Tirmidzi)

Hadits ini menegaskan bahwa kesempurnaan iman tidak hanya diukur dari ibadah ritual semata, tetapi juga dari kualitas akhlak kita dalam berinteraksi dengan sesama. Iman yang sejati akan termanifestasi dalam sikap saling menghormati, tolong-menolong, menjaga persaudaraan, dan menjauhi segala bentuk kemungkaran sosial. Allah SWT juga berfirman dalam Al-Qur'an, Surah Al-Hujurat ayat 10:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati." (QS. Al-Hujurat: 10)

Ayat ini menjadi landasan kuat bagi kita untuk senantiasa menjaga ukhuwah Islamiyah, persaudaraan sesama Muslim. Iman mengajarkan kita untuk melihat setiap Muslim sebagai saudara, yang memiliki hak dan kewajiban yang sama. Oleh karena itu, kita dilarang untuk saling mencela, menggunjing, atau menyebarkan berita bohong yang dapat merusak tali persaudaraan.

Sebagai contoh aplikatif, di tengah maraknya informasi di media sosial, seorang mukmin yang berpegang teguh pada imannya tidak akan mudah terprovokasi oleh berita hoaks atau ujaran kebencian. Ia akan melakukan tabayyun (klarifikasi) sebelum menyebarkan informasi, menjaga lisannya dari ghibah (menggunjing) dan fitnah, serta berusaha untuk selalu menyebarkan pesan-pesan positif. Ketika melihat teman atau kerabatnya mengalami kesulitan, ia akan tergerak untuk membantu, bukan malah membanding-bandingkan atau mencibir. Ia akan menjadi agen perdamaian dan kebaikan di lingkungan sosialnya, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Ia memahami bahwa setiap postingan, setiap komentar, dan setiap interaksi di media sosial akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Hikmah dari poin ini adalah bahwa iman menciptakan masyarakat yang harmonis, penuh kasih sayang, dan saling mendukung. Dengan mengaplikasikan nilai-nilai iman dalam interaksi sosial, kita tidak hanya menciptakan kebahagiaan bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang-orang di sekitar kita. Iman mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama, menjauhi perpecahan, dan senantiasa berupaya membangun kebaikan di muka bumi. Kebahagiaan sejati akan terasa lengkap ketika kita bisa berbagi dan merasakan kebahagiaan bersama orang lain dalam bingkai persaudaraan Islam.

Poin keempat: Membangun Kebahagiaan Abadi dengan Iman yang Kokoh

Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Setelah kita memahami hakikat iman, bagaimana ia memberikan ketenangan di tengah ujian, dan bagaimana ia membentuk interaksi sosial yang baik, kini saatnya kita merenungkan tujuan akhir dari kebahagiaan sejati. Kebahagiaan duniawi, seindah apa pun, pada akhirnya akan berakhir. Harta bisa hilang, jabatan bisa lepas, kesehatan bisa menurun, dan usia pun akan mencapai batasnya. Namun, ada kebahagiaan yang abadi, yang tidak akan pernah sirna, yaitu kebahagiaan di akhirat, di sisi Allah SWT. Iman adalah satu-satunya bekal yang akan membawa kita menuju kebahagiaan abadi tersebut.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an, Surah Al-Kahf ayat 107-108:

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنّٰتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا ۙ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا لَا يَبْغُوْنَ عَنْهَا حِوَلًا

Artinya: "Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, untuk mereka disediakan surga Firdaus sebagai tempat tinggal, mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin pindah dari sana." (QS. Al-Kahf: 107-108)

Ayat ini memberikan gambaran yang sangat indah tentang balasan bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Surga Firdaus, tempat tinggal yang kekal abadi, di mana tidak ada lagi kesedihan, kekhawatiran, atau rasa bosan. Ini adalah puncak kebahagiaan yang sejati, yang tidak dapat dibandingkan dengan kebahagiaan duniawi mana pun. Imanlah yang menuntun kita untuk senantiasa berorientasi pada kehidupan akhirat, menjadikan dunia ini sebagai ladang amal untuk memanen pahala di kemudian hari.

Oleh karena itu, iman yang kokoh tidak hanya membuat kita bahagia di dunia, tetapi juga menjadi investasi terbesar kita untuk kebahagiaan yang tak berkesudahan di akhirat. Setiap amal kebaikan yang kita lakukan, setiap ibadah yang kita tunaikan, setiap sedekah yang kita berikan, semuanya adalah wujud dari iman kita dan bekal kita menuju surga. Rasulullah SAW juga mengingatkan kita tentang pentingnya mempersiapkan diri untuk akhirat, sebagaimana sabdanya:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

Artinya: "Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau pengembara." (HR. Bukhari)

Hadits ini mengajarkan kita untuk tidak terlalu terikat dengan dunia, melainkan menjadikannya sebagai jembatan menuju akhirat. Kita adalah musafir yang sedang dalam perjalanan, dan tujuan akhir kita adalah kampung halaman yang abadi di surga.

Sebagai contoh aplikatif, di tengah kesibukan pekerjaan dan tuntutan hidup di perkotaan, seorang mukmin yang memiliki iman kokoh akan senantiasa memprioritaskan ibadah dan amal saleh. Meskipun jadwalnya padat, ia akan menyempatkan diri untuk shalat tepat waktu, membaca Al-Qur'an, bersedekah, dan berbakti kepada orang tua. Ia tidak akan terlena dengan kesenangan duniawi semata, melainkan akan menggunakan waktu, harta, dan tenaganya untuk berinvestasi di akhirat. Ia memahami bahwa setiap detik yang ia habiskan di dunia adalah kesempatan untuk mengumpulkan bekal menuju kebahagiaan abadi. Ia tidak akan menunda-nunda amal kebaikan, karena ia tahu bahwa kematian bisa datang kapan saja, dan hanya iman serta amal saleh yang akan menemaninya di alam kubur dan di hari perhitungan kelak.

Hikmah dari poin ini adalah bahwa iman mengarahkan kita pada tujuan akhir yang mulia dan kebahagiaan yang tak berkesudahan. Ia memberikan kita harapan, motivasi, dan kekuatan untuk menjalani hidup dengan penuh makna. Dengan iman, kita tidak akan pernah merasa rugi, karena setiap pengorbanan di jalan Allah akan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda. Marilah kita perkokoh iman kita, agar kita dapat meraih kebahagiaan sejati, baik di dunia maupun di akhirat.

3. Penutup

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Demikianlah khotbah singkat mengenai "Iman sebagai Pondasi Kebahagiaan Sejati" yang dapat khatib sampaikan. Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Ingatlah, kebahagiaan sejati bukanlah tentang apa yang kita miliki, melainkan tentang bagaimana kita beriman dan beramal saleh. Iman adalah cahaya yang menerangi hati, penenang jiwa di kala ujian, pendorong kebaikan dalam interaksi sosial, dan penuntun menuju kebahagiaan abadi di akhirat.

Marilah kita senantiasa memohon kepada Allah SWT agar diberikan keistiqamahan dalam iman, kekuatan untuk menjalankan perintah-Nya, dan kemampuan untuk menjauhi larangan-Nya. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang beriman, bertakwa, dan meraih kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHOTBAH KEDUA

1. Pembukaan

Alhamdulillahilladzi hadana lihadza wama kunna linahtadiya laula an hadanallah. Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh, la nabiyya ba'dah. Allahumma shalli wa sallim ala sayyidina Muhammadin wa ala alihi wa shahbihi ajma'in.

Amma ba'du. Faya ibadallah, usikum wa iyyaaya bitaqwallahi faqad fazal muttaqun. Ittaqullaha haqqa tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun.

2. Isi Singkat

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Setelah kita merenungi bersama pada khotbah pertama tadi, betapa agungnya peran iman sebagai pondasi utama kebahagiaan sejati. Bukan harta benda, bukan pula jabatan atau pengakuan sosial yang fana, melainkan imanlah yang menuntun hati kita menuju ketenangan dan kedamaian abadi. Iman adalah cahaya yang menerangi jalan kita di tengah gelapnya ujian kehidupan, membimbing setiap langkah dan interaksi kita agar senantiasa berada dalam ridha Allah SWT.

Ingatlah firman Allah SWT dalam Al-Qur'an Surah Ar-Ra'd ayat 28:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

"Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."

Ayat ini menegaskan kembali bahwa ketenangan jiwa, inti dari kebahagiaan, hanya dapat diraih melalui iman dan zikir kepada Allah. Maka, marilah kita senantiasa memperkuat iman kita, menjadikannya kompas dalam setiap keputusan, dan bekal utama menuju kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat.

Dan sebagai wujud cinta kita kepada Rasulullah SAW, yang telah membimbing kita menuju jalan keimanan ini, marilah kita perbanyak shalawat dan salam kepada beliau. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Ahzab ayat 56:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penghormatan yang setulus-tulusnya."

Allahumma shalli ala Muhammad wa ala ali Muhammad.

3. Doa Penutup

Allahummaghfir lil muslimina wal muslimat, wal mukminina wal mukminat, al-ahya'i minhum wal amwat. Innaka sami'un qaribun mujibud da'wat.

Allahumma a'izzal Islam wal Muslimin, wanshur man nasharaddin, wakhdzul man khadzalal Muslimin, wadammir a'da'addin, wa'li kalimataka ila yaumiddin.

Allahummaftah lana abwabal khair, wa abwabal barakah, wa abwabar rahmah, wa abwabar rizqi, wa abwabal quwwah, wa abwabas salamah, wa abwabal jannah.

Allahumma ashlih ummatana, waj'alna minash sholihin, waj'al baldatana baldatan thayyibatan wa rabbun ghafur.

Ya Allah, jadikanlah negara kami, Indonesia, negara yang aman, damai, makmur, dan senantiasa dalam lindungan serta ridha-Mu. Jauhkanlah kami dari segala fitnah, bencana, dan perpecahan. Satukanlah hati pemimpin dan rakyatnya dalam kebaikan dan ketakwaan.

Rabbana atina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina adzabannar.

Subhana rabbika rabbil izzati amma yasifun, wa salamun alal mursalin, walhamdulillahi rabbil alamin.

Disusun otomatis dengan bantuan AI. Mohon ditelaah dan disesuaikan sebelum dibacakan.